Rp40 Miliar Untuk Hujan Buatan

Rp40 Miliar Untuk Hujan Buatan

JAKARTA- Adanya pengaruh El Nino moderat akan menyebabkan kondisi cuaca lebih kering dan musim kemarau lebih panjang hingga November 2015. Kondisi ini menimbulkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meningkat jika tidak dilakukan upaya-upaya pencegahan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam upaya pencegahan telah melakukan modifikasi cuaca atau hujan buatan sejak Juni 2015 lalu. Selama 90 hari modifikasi, BNPB menyiapkan dana Rp40 miliar.

” Biaya ini sebagian besar untuk operasional pesawat terbang,” kata Kepala BNPB Syamsul Maarif melalui Kapusdatin Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (12/7).

Presiden Jokowi telah mengintruksikan pada Januari 2015 bahwa Kementerian LH dan Kehutanan sebagai penanggung jawab mengendalikan karhutla. BNPB mendukung Kemen LHK dan mendampingi BPBD di daerah. Gubernur dan Bupati/Walikota menjadi penanggung jawab di daerahnya.

BNPB bersama BPPT, Kementerian LHK dan TNI AU terus melaksanakan hujan buatan di Riau dan Sumatera Selatan. Di Riau hujan buatan dilakukan sejak 22-6-2015 hingga sekarang dengan pesawat CN-295 TNI AU. Sebanyak 36,5 ton garam (NaCl) telah ditaburkan ke dalam awan dari pesawat sebanyak 21 kali penerbangan.

Di Sumsel, hujan buatan menggunakan pesawat Casa 212-200 Pelita Air Service sejak 9-7-2015 dengan menaburkan 5 ton garam.

Menurut Sutopo, karhutla akan mudah terjadi di Sumatera dan Kalimantan jika tidak diantisipasi dengan baik. Bencana asap dapat berulang kembali dan menimbulkan dampak besar.

Kerugian ekonomi karlahut di Riau pada Februari-April 2014 sekitar Rp 20 trilyun, 2.398 hektar cagar biosfer terbakar, 21.914 hektar lahan terbakar, 58.000 orang menderita ISPA, dan sekolah diliburkan.

Sementara itu, pantauan satelit Modis pada Minggu (12-7-2015) ada 237 hotspot di Sumatera. Hotspot tersebut diantaranya di Riau sebanyak 167 titik, Sumut 37 titik, Sumsel 14 titik, Jambi 18 titik dan Lampung 1 titik.

Asap telah menyebabkan jarak pandang turun di Pekanbaru 3 km, Dumai 1 km dan Pelalawan 3 km. Kualitas udara di Kota Pekanbaru dalam kategori tidak sehat. (feb)

Berita Terkait

Leave a Reply