
SAWAHLUNTO – Kota Sawahlunto menghadirkan replika Mak Itam E 1060, sebuah lokomotif legendaris yang lekat dengan sejarah tambang Sawahlunto menjadi strategi Pemerintah kota dalam menarik perhatian wisatawan. Berbeda dengan lokomotif asli yang membutuhkan batubara untuk berjalan, replika Mak Itam dirancang dengan mesin tenaga diesel sehingga untuk operasional dari sisi biaya jauh lebih hemat dan lebih ramah lingkungan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Peninggalan Sejarah Kota Sawahlunto mengatakan, Lokomotif Mak Itam yang ini bukan buatan Jerman, tapi dibuat oleh kreator-kreator asli daerah. Replika Mak Itam yang kini berdiri di rel depan Museum kereta, dirancang mampu menarik 2 gerbong kapasitas 50 penumpang.
“Pengadaan replika dengan dana Rp.71 juta dari APBD merupakan langkah untuk mensiasati kondisi lokomotif E1060 asli yang tidak mampu lagi berjalan,” jelas Hendri, Selasa (11/9).
Ditargetkan, sebutnya, replika Mak Itam akan beroperasi mengangkut wisatawan pada akhir tahun 2018. Dengan dukungan DPRD Insya Allah pengadaan gerbong akan bisa direalisasi melalui anggaran perubahan
2018. Saat ini, pihaknya tengah mengusulkan perda retribusi harga tiket replika Mak Itam sebesar 10 ribu rupiah per orang. Dengan rute dari Museum Kereta masuk terowongan Lubang Kalam hingga Muaro Kalaban, pungkasnya. (tumpak)






