JAKARTA- Tingkat penyelamatan (Recovery Rate) dana masyarakat korban scam mencapai 5 persen sudah sangat baik dibanding di negara lain. Indonesia Anti Scam Center (IACS) dinilai sudah memiliki kinerja sangat optimal karena baru setahun beroperasi sudah berhasil menyelamatkan dana masyarakat korban penipuan keuangan sekitar Rp400 miliar.
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam prosesi pengembalian dana masyarakat korban scam di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
“Mendengar laporan tentang keberhasilan kalau boleh dikatakan recovery rate pada angka 5 persen, IASC sudah menunjukkan kinerja yang baik dan patut diapresiasi,” kata Mahendra.
Sebelumnya dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan Friderika Widyasari Dewi menyampaikan IASC berhasil memblokir dana sekitar Rp400 miliar dari total nilai kerugian masyarakat hampir Rp9 triliun.
Mahendra menyebutkan, kasus scam yang dialami masyarakat merupakan salah satu efek negatif atau dalam kata lain sebagai “anak haram” digitalisasi. Menurutnya, harus disadari aksi kejahatan juga berevolusi seiring perkembangan zaman dan teknologi.
“Namun merespon hal tersebut, IASC hanya bisa berhasil jika mendapat dukungan dari semua pemangku kepentingan terutama industri jasa keuangan,” ulasnya.
Dia menegaskan, capaian IASC yang baru di tahun pertama beroperasi menjadi modal untuk menguatkan komitmen untuk semakin baik ke depan. Dia meminta masyarakat untuk tidak ragu melaporkan jika terjadi tindak penipuan scam lebih awal agar IASC juga bisa mengambil Langkah cepat.
Mahendra mengajak seluruh pihak untuk ikut terlibat aktif di dalam Indonesia Anti Scam Center (IASC). Tidak hanya industri perbankan, sistem pembayaran, market place, fintech, termasuk juga perusahaan-perusahaan telekomunikasi dan semua yang menjadi satu kesatuan di dalam IASC.
“Jadi jelas bahwa modus, ruang lingkup dan berbagai titik harus dipadukan, terus diperkuat sehingga semakin tidak terbuka celah-celah untuk memanfaatkan kekurangan dalam suatu jejaring di tengah era digitalisasi yang memang sangat diperlukan oleh masyarakat,” ujarnya.
Dia mengingatkan bahwa yang terpenting dalam upaya untuk me-recovery dana akibat scam adalah kecepatan dalam menyampaikan pengaduan. Semakin cepat pengaduan maka potensi untuk recovery akan semakin baik.
Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi XI DPR RI Muhammad Misbachun menyampaikan apresiasi kepada OJK dan IASC yang telah berhasil menyelamatkan dana masyarakat. Meskipun baru tercapai sekitar 5 persen dari kerugian namun ke depan tentunya diharapkan akan semakin baik.
“Ini sangat luar biasa dan saya harus memberikan apresiasi kepada OJK karena telah berhasil dengan capaian 5 persen sudah lebih baik dibanding negara-negara lain yang mungkin baru 2 persen,” ujarnya.
Dia menyampaikan apresiasi atas keberhasilan IASC mengkonsolidasikan lebih dari 20 lembaga di luar perbankan di dalam memainkan peran dalam tugas dan tanggung jawab menjaga masyarakat dari tindakan kejahatan. Dia berharap IASC ke depan semakin kuat perannya dalam menjalankan amanah undang-undang memberikan perlindungan kepada masyarakat.
IASC berhasil menyelamatkan sekitar Rp400 miliar dana masyarakat korban scam dari prediksi kerugian sekitar Rp9 triliun dengan jumlah rekening yang dilaporkan sebanyak 721 ribu rekening. Dari jumlah tersebut sebanyak 397 ribu rekening telah dilakukan pemblokiran. Sebanyak Rp161 miliar dana masyarakat yang berhasil diselamatkan diserahkan dalam kesempatan itu, sementara sisanya masih dalam proses. F







