
PADANG — Pandemik Covid 19 yang melanda hampir di seluruh dunia memberi dampak pada seluruh sisi kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Mengantisipasi penyebaran virus, anak-anak didik, termasuk Sumatera Barat terpaksa harus menjalani pembelajaran secara daring. Disisi lain semua pihak terkait, juga keluarga belum siap menjalani proses pembelajaran secara daring.
“Sejak kasus pertama Covid-19 di Sumbar tanggal 26 Maret 2020 yang lalu, kita sudah mulai meliburkan sekolah. Namun kita belum siap menghadapinya. Apalagi sebentar lagi akan masuk ajaran baru pada bulan Juli,” ucap Gubernur Sumbar Irwan Prayitno pada rapat terbatas secara virtual bersama akademisi perguruan tinggi negeri di Padang, Senin (22/6/2020). Selain itu juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Adib Alfikri
Menurut pengamatan Irwan, masih adanya guru yang belum menguasai Ilmu Teknologi (IT), seperti menggunakan komputer atau mengajar melalui daring (internet). Tentu perlu memberikan pembekalan terhadap SDM dalam penggunaan IT, agar lebih siap untuk bekal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
“Untuk peserta didik dapat belajar jarak jauh namun harus memiliki fasilitas dan menguasai penggunaan produk teknologi yang digunakan. Produk teknologi yang dapat digunakan oleh peserta didik antaranya komputer, laptop, netbook dan handphone seluler,” kata Irwan Prayitno.
Selain itu kapasitas komputer tidak disiapkan untuk bisa mengoperasikan IT, kemudian tambah lagi insfrastruktur IT, seperti komputer lama tidak bisa menginstall aplikasi zoom. Kalaupun sudah ada komputer terbaru tetapi tidak bisa menjalankannya.
Akibat kurangnya pemahaman terhadap IT, terpaksa guru hanya memberi buku untuk dibaca, beri tugas untuk dikerjakan. Yang penting anak-anak tetap belajar di rumah dan tidak menganggur. Irwan menilai guru hanya mengajar sesuai pemahaman masing-masing.
Dipihak lain, tambahnya, orang tua pun terbiasa mengandalkan pihak eksternal, mulai dari sekolah hingga bimbingan belajar dalam mendidik anak. Akhirnya terjadi kebingungan ketika proses belajar dilakukan di rumah. Karena pendidikan jarak jauh ini merupakan lembaga pendidikan formal berbasis lembaga dimana peserta didik dan instruktur berada di lokasi terpisah.”Sebaiknya Kemendikbud bisa memberi panduan pada guru dan orang tua dengan petunjuk teknis yang jelas untuk membimbing anak belajar di rumah,” ucapnya.
Sementara itu, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sampai hari ini belum ada arahan petunjuk bagaimana untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Dalam SE Mendikbud untuk pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama adalah protokol kesehatan pada era Normal Baru. Misalnya berangkat dari rumah pakai masker bawa makanan, sendiri, ada wastafel cuci tangan, kelasnya dibagi dua, tidak boleh penuh seperti dulu. Cuma itu yang ada dalam SE Menteri saat ini.
“Sekolah bisa lakukan dua shift dengan jumlah murid 50 persen dari biasanya. Jam pelajaran di persingkat dan tidak ada keluar main. Jam pulang sekolah tidak dibenarkan bermain dan langsung pulang dan wali murid wajib mengawasi anaknya.Sedangkan bagaimana standar yang hendak dicapai atau Kriteria kelulusan Minimal (KKM) belum ada arahan Indikator petunjuk dari pusat.,” jelasnya.
Senada dengan Gubernur Sumbar, ditempat terpisah Rektor Universitas Negeri Padang Prof. Drs. Ganefri, M.Pd., Ph.D. menekankan aspek pembelajaran jarak jauh tatap muka tidak mungkin 100 persen. Proses belajar harus diiringi dengan pendekatan jarak jauh dari rumah . Bagaimana polanya, sedang kita cari jalan keluarnya untuk sekolah di Sumatera Barat.
Ia menilai Kemendikbud harus membuat program belajar dari rumah dengan teknis yang jelas terkait dengan kondisi ekonomi dan budaya masyarakat.
Dari sisi ekonomi ia menilai pembelajaran daring tidak bisa dilakukan merata, karena masih banyak siswa yang tak memiliki akses terhadap teknologi, atau tak mampu membayar biaya belajar daring. Sedangkan dari sisi budaya, Kemendikbud mesti memperhatikan budaya siswa yang belum bisa belajar mandiri.
“Sejak wabah corona merebak, sebagian besar daerah melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah. Namun implementasinya tak berjalan mulus,” ucapnya. (nit/*).






