AGAM – Kemenangan Pasangan H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah/Trinda Farhan Satria menumbuhkan asa baru bagi warga, yang mendambakan berlanjutnya Program Agam Menyemai di daerah itu.
Agam Menyemai merupakan program yang menyentuh sampai ke tingkat “akar rumput.” Bagi warga yang bermukim dekat hutan, Agam Menyemai merupakan harapan perbaikan hutan, yang bermuara pada semakin kecilnya kemungkinan terjadinya bencana akibat rusaknya hutan dan lingkungan.
Bagi para petani, membaiknya kondisi hutan menjanjikan ketersediaan air untuk kebutuhan mereka, walau di musim kemarau sekalipun. Sedangkan di musim hujan, bencana banjir semakin bisa ditekan.
Bagi petani kebun, seperti petani sawit rakyat, program penggantian bibit sawit, dari bibit kurang berkualitas ke bibit unggul, sangat menjanjikan. Saat ini banyak sawit rakyat kurang produktif, karena bibitnya berasal dari “bibit pilihan.”
“Penggantian bibit kurang berkualitas kini sedang digalakan. Petani sawit rakyat yang menginginkan sawit mereka diganti dengan bibit unggul, bisa mengajukan permintaan,” ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Agam, Ir. Yulnasri, MM, melalui via ponselnya, Sabtu(19/12).
Program Agam Menyemai meliputi seluruh aspek kehidupan warga. Sejak dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan. Hasilnya sudah mulai dinikmati, walau baru dalam tahap awal pelaksanaannya.
“Yang sangat dirasakan adalah perubahan sikap mental masyarakat. Mereka yang dulunya kurang peduli dengan penyelamatan lingkungan, kini sudah mulai aktif melakukan upaya pemeliharaan dan penyelamatan hutan dan lingkungan,” ujar pengamat lingkungan dari LSM KOMA, D.St. Palimo, Jumat (19/12), di Lubuk Basung.
Di bidang perkebunan rakyat, besar harapan warga agar jalan menuju kebun mereka dibangun menjadi jalan laik tempuh. Kini masih banyak kendala pekebun dalam mengangkut hasil panen mereka ke tempat pemasaran. Di sisi lain, harga komoditi, yang sering anjlog, juga dikeluhkan warga.
“Di samping memperbaiki kualitas tanaman, masalah harga juga perlu menjadi perhatian pemerintah. Walau produksi melimpah,bila harga murah, tidak ada artinya bagi peningkatan kesejahteraan kami,” ujar beberapa pekebun, saat ditemui di beberapa kecamatan di Agam belahan barat.
Menurut pantauan Padangmedia.com, yang paling menderita saat ini adalah petani karet. Harga karet rakyat saat ini hanya sekitar Rp4.500 sampai Rp5.000/kg.
Di bidang perikanan, nasib petani ikan di Kecamatan Tanjung Raya, kini menyedihkan. Mahalnya harga pakan menjadi penyebab utama penderitaan petani ikan sistem keramba jala apung (KJA).
“Harga pakan melambung tinggi, banyak petani ikan kami tidak mampu lagi mengelola KJA mereka,” ujar Pemuka Masyarakat Salingka Danau, Y.St. Sarialam.
Para petani ikan KJA berharap Pemkab Agam berupaya agar harga pakansi tingkat petani ikan bisa lebih murah. Mahalnya harga pakan, menurut mereka akibat permainan pedagang pakan. Bila Pemkab Agam bisa memutus mata rantai distribusi pakan, diyakini harga pakan di tingkat petani ikan akan lebih murah. (fajar)






