AGAM – Program Agam Menyemai yang telah terlaksana selama 5 tahun terakhir telah membuat perekonomian masyarakat Kabupaten Agam meningkat secara signifikan.
Program Agam Menyemai meliputi segenap aspek kehidupan masyarakat Agam. Sejak dari pendidikan, adat dan agama, sosial kemasyarakatan, ekonomi sampai hubungan antara manusia dengan alam.
“Pada prinsipnya, Program Agam Menyemai mengajak segenap warga untuk melakukan kebajikan,” ujar pengamat kinerja aparatur pemerintah, MS. Marajo, Kamis (18/2), kepada padangmedia.com di Lubuk Basung.
Ms. Marajo mengakui, pada masa jabatan pertama Bupati Agam, H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah, telah mampu meletakan pondasi yang kokoh program tersebut.
“Kini masyarakat Agam telah cinta menanam, dan memelihara apa yang ditanamnya. Yang jadi masalah, mampukah Pemkab Agam menyediakan bibit tanaman yang diinginkan orang banyak di daerah itu…?” ujarnya mempertanyakan.
Selama ini ada kecenderungan pihak pemerintah menyediakan bibit tanaman sesuai keinginan mereka, namun tidak diinginkan warga. Akibatnya, banyak bibit tanaman terbuang percuma.
Di awal pelaksanaan Program Agam Menyemai, khusus di bidang kehutanan, perkebunan, pertanian, dan hortikultura, bibit tanaman yang disediakan Pemkab Agam,melalui beberapa SKPD, selalu habis dilalap warga.
Semua bibit tanaman itu nyaris semua ditanam dan dirawat warga dengan baik. Itu karena yang ditanami adalah lahan hutan, pekarangan dan lahan terlantar. Tidak banyak lahan kebun, karena bibit tanaman yang tersedia mayoritas jenis kayu, seperti mahoni, dan MPTS, seperti petai, durian, dan jengkol.
“Kini keinginan warga adalah menanam manggis. Hal itu didorong harga manggis yang kian mahal, dengan pasar yang semakin luas,” ujarnya pula.
Warga yang menginginkan menanam manggis, juga didorong kenyataan kalau sawit tidak cocok di lahan perbukitan. Di sisi lain, perawatan tanaman manggis tidak begitu rumit, dan juga murah, bila dibandingkan dengan tanaman sawit.
Di bidang perikanan, ancaman berbagai bencana menyebabkan petani ikan kini beralih fungsi menjadi buruh. Mereka yang dulunya memiliki keramba, kini menjadi tukang panen di KJA milik orang lain. Pemilik KJA kini mayoritas pemilik modal kuat. Kondisi demikian, banyak yang mempertanyakan, apakah Agam Menyemai bisa menyentuh nasib petani ikan KJA tersebut.
“Kini semua warga Agam menunggu, apakah Program Agam Menyemai jilid II mampu mewujudkan harapan mereka,”ungkapnya. (fajar)






