
BALI – Presiden Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB), Takehiko Nakau menilai bahwa secara umum kondisi ekonomi makro sangat kuat, dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 5% atau di atas pertumbuhan internasional sebesar 3%.
Hal itu dikatakan Takehiko Nakao usai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di sela-sela acara Annual Meetings IMF-World Bank Group, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10) siang.
Sementara, terkait merosotnya nilai tukar rupiah, Presiden ADB itu menilai bahwa nilai tukar mata uang Indonesia telah mengalami depresiasi yang berlebihan dan tidak menunjukkan nilai fundamentalnya. “Itu karena sentimen spekulatif, karena efek kebijakan cadangan federal (Bank Sentral AS) dan beberapa masalah karena alasan lain, maksud saya dalam ekonomi makro yang muncul,” jelas Takehiko dilansir dari laman Setkab RI.
Mengenai pertemuannya dengan Presiden Jokowi, Presiden ADB mengakui telah menawarkan bantuan pinjaman sebesar 1 miliar dollar AS untuk penanganan pasca gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Lima ratus juta dolar AS untuk dukungan anggaran dan sisanya untuk dukungan proyek air, sanitasi, listrik, jembatan, sekolah dan sebagainya, kata Takehiko. (rin/*)






