PPN Sumbagut Prediksi Kenaikan Konsumsi Gasoline 9,5 Persen, Tertinggi di Sumbar
  • Home
  • Berita
  • PPN Sumbagut Prediksi Kenaikan Konsumsi Gasoline 9,5 Persen, Tertinggi di Sumbar

PPN Sumbagut Prediksi Kenaikan Konsumsi Gasoline 9,5 Persen, Tertinggi di Sumbar

Sunardi

MEDAN- Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memprediksi terjadi kenaikan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada masa Satgas Ramadan dan Idulfitri 2026 terutama untuk jenis Gasoline (pertalite, pertamax, dan pertamax turbo). Sedangkan untuk BBM jenis gasoile diprediksi akan terjadi penurunan kecuali untuk jenis Dex Lite karena berkurangnya aktivitas angkutan barang.

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Sunardi mengungkapkan hal itu dalam konferensi pers terkait kesiapan menghadapi libur Idulfitri 2026, Selasa (17/3/2026). Menurutnya, Kenaikan konsumsi BBM tersebut terjadi di seluruh wilayah kerja dengan prediksi kenaikan tertinggi terjadi di Sumatera Barat.

“Kami memprediksi akan terjadi kenaikan konsumsi BBM pada masa Satgas Ramadan dan Idulfitri 2026, terutama jenis Gasoline yaitu sekitar 9,5 persen dengan prediksi kenaikan tertinggi yaitu di Sumatera Barat karena merupakan salah satu daerah tujuan perjalanan seperti pulang basamo maupun kunjungan wisata,” kata Sunardi.

Dia memaparkan, konsumsi BBM jenis Gasoline di lima provinsi wilayah PPN Regional Sumbagut diperkirakan naik dari 13.398 kiloliter/ hari menjadi 14.671 kiloliter/ hari. Rinciannya, untuk jenis Pertalite naik dari 11.190 kiloliter menjadi 12.124 kiloliter/ hari atau naik 8,3 persen.

Kemudian untuk BBM jenis Pertamax naik dari 1.831 kiloliter/ hari menjadi 2.202 kiloliter/ hari atau naik 14 persen. Sedangkan untuk Pertamax Turbo diperkirakan naik sekitar 25 persen dari 278 kiloliter menjadi 344 kiloliter/ hari.

Sunardi menyebutkan, dibagi per provinsi wilayah kerja PPN Sumbagut, prediksi kenaikan konsumsi gasoline tertinggi terjadi di Sumatera Barat yaitu sekitar 18 persen dengan rata-rata konsumsi normal menjadi 2.599 kiloliter/ hari. Sementara di Aceh terjadi kenaikan konsumsi 9,6 persen menjadi 2.037 kiloliter, Sumatera Utara naik 8,9 kiloliter menjadi 5.592 kiloliter, Riau naik sekitar 8,7 persen menjadi 3.065 kiloliter, dan Kepulauan Riau naik sekitar 3,1 persen menjadi 1,378 kiloliter perhari.

Sementara itu, konsumsi BBM jenis gasoil yaitu Solar/ biosolar, Dexlite, dan Pertamina Dex diperkirakan akan turun sekitar 8,2 persen terutama pada libur Idulfitri. Hal itu disebabkan adanya pembatasan kendaraan angkutan barang beberapa hari sebelum dan sesudah lebaran.

Dia merinci, konsumsi solar/ biosolar diperkirakan turun 8,5 persen dari kondisi normal sekitar 9.014 kiloliter menjadi 9.030 kiloliter perhari. Untuk jenis Dexlite diperkirakan naik sekitar 8,6 persen dari 302 kiloliter menjadi 328 kiloliter perhari, dan untuk Pertamina Dex naik 10 persen dari 83 kiloliter menjadi 92 kiloliter perhari.

“Secara rata-rata konsumsi BBM jenis Gasoil ini turun karena adanya pengurangan aktivitas angkutan barang kecuali untuk jenis Dexlite dan Pertamina Dex untuk kendaraan pribadi bermesin diesel,” ujarnya.

Sunardi memaparkan juga bahwa puncak arus bepergian pertama libur Idulfitri akan terjadi pada tanggal 14 dan 15 Maret 2026, puncak arus bepergian kedua pada tanggal 18 dan 19 Maret 2026. Sedangkan puncak arus balik pertama akan terjadi pada 24 dan 25 Maret serta puncak arus balik kedua libur Idulfitri akan terjadi pada tanggal 28 sampai 29 Mafret 2026.

Untuk memenuhi kebutuhan BBM dan LPG masyarakat selama masa libur Ramadan dan Idulfitri, Sunardi menyebutkan, pihaknya telah menyaiagakan seluruh infrastruktur yaitu 19 integrated dan fuel terminal, 5 aviation terminal, 842 SPBU, dan 1.079 pertashop. Kemudian untuk LPG sebanyak 934 agen, 88 SPBE, serta ada juga 9 agen minyak tanah PSO.

“Pada jalur potensial yaitu jalur wisata, jalur tol, dan jalur utama juga disiapkan layanan energi pendukung berupa SPBU siaga 24 jam, layanan modular, motorist BBM dan LPG, Kiosk Pertamina Siaga, termasuk mobil tangka stand by, serta menyiapkan tim tanggap darurat sebagai langkah antisipasi di daerah berpotensi rawan bencana,” tutupnya. F

Berita Terkait

Leave a Reply