
PAKANDANGAN – Pondok Pesantren Darul Ikhlas Pakandangan, tahun ajaran ini terpaksa menolak calon santri. Karena pondok hanya bisa menerima 25 orang santri saja. Dengan bergabungnya anak didik baru, jumlah keseluruhan santri di pondok tersebut adalah 300 orang.
“Kami malah terpaksa menolak santri,” ujar Pimpinan Pondok H. Suhaili Tuanku Mudo kepada Anggota DPD RI H. Leonardy Harmainy Dt. Bandaro Basa, S.IP., MH yang bersilaturahmi ke pondoknya pada Jumat kemarin.
Tingginya minat calon santri untuk belajar di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Pakandangan, disebabkan di sana santri bukan hanya belajar agama. Mereka juga diberi kecakapan hidup (life skill). Keterampilan ini dimaksudkan untuk dapat menjadi sumber pemasukan ekonomi diri dan keluarganya.
Para santri tersebut, diajarkan berbagai jenis ketrampilan yang hasilnya telah diakui oleh penduduk setempat. Santri Ponpes Darul Ikhlas Pakandangan banyak melahirkan tukang bangunan yang handal. Juga ada petani yang sukses, teknisi bengkel yang baik dan ketrampilan lainnya yang bermanfaat bagi mereka. Tentunya selain pelajaran agama yang mereka peroleh di pondok.
Diakui Tuanku Mudo, santrinya banyak juga berasal dari lingkungan sekitar. Mereka masuk ke sana disesuaikan dengan minatnya. Jika ia berminat pada ilmu pengetahuan umum, maka pihak pondok akan memfasilitasinya untuk sekolah di sekolah umum. Pada malam harinya barulah mereka belajar ilmu agama di pondok.
“Santri kita bebas memilih yang diminatinya. Terpenting mereka menjalani pendidikan agama di pondok dengan sungguh-sungguh. Alhamdulillah lulusan setingkat Ulya bisa setara kemampuannya dengan S1 IAIN,” ujar penerus Buya Angku Kuning Zubir itu.
Menurut Tuanku Mudo, pondok saat ini terpaksa mengurangi penerimaan lantaran keterbatasan sarana penunjang. Asrama santri sebagian rusak. Ia berharap Anggota Komite III DPD RI itu dapat memfasilitasi pondok itu untuk mendapatkan bantuan dari kementerian terkait untuk bisa membangun kembali asrama yang lebih representatif. Begitu juga dengan kebutuhan lainnya seperti kitab-kitab, pengadaan seragam bagi 300 santrinya dan lain-lain.

Leonardy Harmainy yang berpengalaman dalam penganggaran sewaktu menjadi pimpinan DPRD Sumbar 2004-2014 itu langsung merespon harapan pihak pondok pesantren. Mereka diminta diminta mengajukan proposal ke Kementerian PUPR untuk pembangunan kembali asrama santri di sana. “Kita akan fasilitasi dan kita dorong bersama-sama agar permohonan tersebut segera direalisasikan,” ujar pria yang akrab dipanggil Bang Leo itu.
Dikatakannya, kedatangannya ke Pondok Pesantren Darul Ikhlas adalah melaksanakan tugas pengawasan terhadap pelaksanaan UU Sisdiknas terutama yang berkenaan dengan sistem zonasi pada PPDB tahun ini. “Alhamdulillah, pondok pesantren tidak terpengaruh oleh imbas sistem zonasi. Pondok tetap jadi pilihan orang tua yang ingin anaknya berwawasan keilmuan dan punya akar keimanan yang kuat,” ulasnya. (nit/*)






