Petani KJA Beralih ke Nelayan Tangkap
  • Home
  • Agam
  • Petani KJA Beralih ke Nelayan Tangkap

Petani KJA Beralih ke Nelayan Tangkap

Petani Ikan fIrdaus

AGAM -Usaha budi daya ikan sistem Keramba Jala Apung (KJA) telah mampu merubah kondisi ekonomi masyarakat salingka Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sejak puluhan tahun lalu. Namun, kini usaha tersebut mulai terasa tidak lagi menjanjikan keuntungan.

Hal itu disebabkan mahalnya harga pakan yang tidak diimbangi kenaikan harga jual ikan di pasaran. Di sisi lain, kematian ikan, yang selalu terjadi setiap saat di petak KJA membuat berkurangnya hasil panen para petani

Seorang Petani Ikan, Firdaus Prakoso, kepada Padangmedia.com, Jumat (11/12), mengatakan, sudah banyak petani ikan yang telah berhenti membudidaya ikan, karena sering mengalami kerugian, hanya petani yang memiliki banyak modal yang mampu bertahan. sementara usaha rakyat kian berkurang. Mereka sudah tidak mampu bertahan, karena faktor tersebut.

Firdaus menjelaskan, Petani ikan, yang semula menjadi pemilik KJA, kini banyak beralih profesi menjadi nelayan tangkap. Mereka memanfaatkan perairan Danau Maninjau untuk menangkap ikan, menggunakan peralatan sederhana. Juga banyak yang kembali ke ladang, memanfaatkan lahan yang ada, dan ada juga yang pergi merantau untuk merubah nasib.

“Banyak petani KJA yang beralih profesi, ada yang menjadi nelayan tangkap, ada yang kembali ke ladang, dan ada juga yang pergi merantau untuk merubah nasibnya,” tutur firdaus dengan nada lirih.

Dijelaskan Firdaus, Harga pakan ikan dari tahun 2012 hingga beberapa waktu terakhir hanya berkisar sekitar Rp.360.000. namun sekarang menjadi meningkat drastis, hingga mencapai Rp.450.000. dan tingkat kerugian juga meningkat, ikan yang mati biasanya 2 Kg per harinya, sekarang mencapai 6 Kg – 8 Kg perhari.

 Sementara harga jual ikan di tingkat petani KJA hanya sekitar Rp23.000/kg. Kondisi demikian menyebabkan petani ikan dengan modal lemah,”marasai.”

“Saya mencoba bertahan, walaupun keuntungan yang diperoleh minim, kedaan dan tanggung jawablah yang membuat saya bertahan hingga saat ini,” jelasnya.

Para petani ikan berharap adanya perhatian dari pemerintahan setempat untuk menekan harga pakan tersebut. Hal itu bisa dilakukan, bila Pemkab Agam mengambil alih pemasaran pakan ikan untuk daerah itu. misalnya, mengupayakan perusahaan daerah sebagai agen tunggal pakan yang dibutuhkan petani ikan. (fajar)

Berita Terkait

Leave a Reply