Penuh Tantangan, Sektor Utama Penopang Ekonomi Sumbar Masih Rentan Terdampak Bencana
  • Home
  • Berita
  • Penuh Tantangan, Sektor Utama Penopang Ekonomi Sumbar Masih Rentan Terdampak Bencana

Penuh Tantangan, Sektor Utama Penopang Ekonomi Sumbar Masih Rentan Terdampak Bencana

WhatsApp Image 2026 01 28 at 14.11.39(1)

PADANG- Upaya memulihkan perekonomian Sumatera Barat masih dihadapkan sejumlah tantangan, terutama dampak bencana alam. Sektor-sektor utama perekonomian masih rentan sehingga ketika terjadi bencana alam akan terdampak secara signifikan.

Menghadapi tantangan tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram memaparkan, dibutuhkan satu strategi bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif tapi juga tidak terlalu terdampak kalau terjadi bencana.

“Memang yang menjadi tantangan kita adalah Sumatera Barat ini secara historis memiliki potensi risiko terdampak dari goncangan-goncangan besar terutama krisis bencana dan juga pandemi yang ini juga berpotensi meninggalkan dampak struktural jangka panjang, ” kata Majid dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia dan Peluncuran Laporan Perekonomian 2025 di Aula Anggun Nan Tongga Kantor Bank Indonesia Sumatera Barat, Rabu (28/1/2026).

Majid memaparkan, terkait dengan kondisi perekonomian di Sumatera Barat masih mengalami penurunan namun dia berharap kondisi itu tidak terus berlanjut. Ke depan perlu seluruh pihak untuk bersinergi guna menjaga pertumbuhan ekonomi untuk bisa bangkit lagi menuju arah yang sama lah dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Bank Indonesia, lanjutnya, melakukan upaya pengkajian dengan melibatkan perguruan tinggi yaitu dari Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang. Kajian difokuskan kepada dua hal yang diindikasikan memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap keberlangsungan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat.

“Tentu hasil penelitian ini bisa memberikan usulan rekomendasi untuk bisa bagaimana kita mencari strategi percepatan pertumbuhan yang inklusif terutama dari sektor-sektor yang kuat menyerap tenaga kerja termasuk dari UMKM ke depan, ” ulasnya.

Dia menerangkan, penelitian pertama adalah terkait terkait dengan kajian dampak ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Hasil penelitian itu diharapkan mendapatkan gambaran sejauh mana bencana alam memberikan dampak terhadap perekonomian dan langkah-langkah penanganannya menjadi rekomendasi di akhir pnelitian.

“Dari penelitian ini akan dilihat sektor-sektor mana yang paling terdampak dan kira-kira kebijakan apa yang paling efektif untuk mengembalikan dan bahkan meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” katanya.

Dia menambahkan, dari penelitian tersebut diharapkan bisa mengukur dan memetakan bekas “luka” atau scaring efect dari guncangan terhadap potensi pertumbuhan jangka panjang termasuk sektor-sektor yang paling rentan terdampak dari luka itu sendiri. Kemudian juga dari penelitian itu nanti tim peneliti akan mengusulkan dasar kebijakan untuk memutus risiko long round equilibrium dan memperkuat strategi mencapai pertumbuhan ekonomi melalui intervensinya lebih transformasional.

“Tentunya nanti bisa memberikan skenario kebijakan berbasis pada simulasi untuk menilai efektivitas berbagai opsi intervensi,” ujarnya.

Kajian kedua adalah adalah penelitian terkait percepatan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat melalui penguatan sektor inklusif. Jadi kajian itu akan memperkuat upaya untuk mempercepat pertumbuhan melalui penguatan sektor dan inklusif dengan mengidentifikasi sektor yang paling kuat menciptakan tenaga kerja dan mengukur bagaimana pariwisata bisa mengangkat pendapatan UMKM.

“Sehingga pertumbuhan tidak hanya tinggi tetapi juga merata,” paparnya.

Tujuan dari dua penelitian itu, kata Majid, pertama untuk bisa melihat bahwa bencana yang kerap terjadi di Sumatera Barat berdampak terhadap sektor-sektor Utama. Untuk itu diharapkan kedepan bisa merancang satu strategi bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif, juga tidak terlalu terdampak kalau terjadi bencana.

Tujuan kedua adalah diharapkan ada input terkait bagaimana mendorong ekonomi bisa berbasis pada sektor-sektor dan inklusif terutama menyerap tenaga kerja di sektor UMKM,” tandasnya. F

Berita Terkait

Leave a Reply