
PADANG – Paham radikal dan terorisme sangat berbahaya untuk keutuhan bangsa. Karenanya, paham radikal dan terorisme harus ditangkal sejak dini.
Hal itu ditegaskan Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sumatera Barat Syaifullah dalam dialog di kampus Universitas Agama Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Rabu (26/7). Menurutnya, peningkatan pemahaman masyarakat terhadap bahaya radikalisme dan terorisme harus terus ditingkatkan dengan berbagai upaya dalam rangka melakukan pencegahan terhadap berkembangnya paham yang mengancam keutuhan bangsa tersebut.
“Penolakan terhadap paham radikal dan terorisme harus menjadi pemahaman bersama sehingga tidak berkembang. Paham-paham tersebut mengancam keutuhan bangsa,” tegasnya.
Dia menambahkan, pencegahan terhadap radikalisme dan terorisme bukan pesanan dari negara asing namun adalah upaya warga negara dalam rangka menjaga dan menyelamatkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Penularan pemahaman terhadap ancaman radikalisme dan terorisme merupakan salah satu upaya mencegah paham tersebut berkembang.
“Paham radikal dan terorisme ini tidak akan berkembang kalau anak bangsa memiliki pemahaman yang baik dan melihat potensi ancaman yang akan mengancam keselamatan bangsa,” lanjutnya.
Dalam dialog bertajuk Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme itu, hadir Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Andi Intan Dulung. Dia menyebutkan, sebagian besar terpidana terorisme saat ini berada dalam rentang usia di bawah 40 tahun.
“Artinya, penyebar paham radikal sengaja menyasar kalangan generasi muda,” papar Intan.
Untuk itu, membentengi generasi muda sangat perlu dilakukan. Setiap warganegara diharapkan memiliki pandangan yang sama bahwa paham radikal adalah musuh bersama.
Salah seorang narasumber, bekas komandan Mantiqi III Jamaah Islamiyah Nasir Abbas memaparkan pengalamannya ketika terlibat di dalam pelatihan kaum radikal. Pemaparan tersebut dimaksudkan sebagai pembuka wawasan generasi muda khususnya di Sumatera Barat mengenai bahaya paham tersebut.
Dia menceritakan bahwa untuk masuk ke dalam kelompok radikalisme sangat penuh dengan trik yang membuat seseorang terpikat. Namun, ketika sudah masuk, seseorang akan sangat sulit untuk keluar dari jaringan tersebut.
“Banyak trik dari kaum radikal untuk memikat seseorang masuk ke dalam jaringan mereka dan ketika sudah masuk akan sangat sulit untuk keluar,” ujarnya.
Hal itu dia paparkan untuk mengingatkan generasi muda untuk menyadari bahaya radikalisme dan tidak pernah mencoba untuk bergabung dengan jaringan terorisme.
Disasarnya kampus-kampus untuk berdialog menurut Ketua panitia pelaksana, Said Rais adalah karena ada indikasi kampus menjadi tempat yang empuk bagi penganut paham radikal menyebarkan ajarannya. Dialog tersebut merupakan salah satu langkah sosialisasi dengan memfokuskan kepada lingkungan kampus. Dialog tersebut diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat. (feb)






