Pengawas Ponpes Nurul Ikhlas Mengaku Kecolongan
  • Home
  • Berita
  • Pengawas Ponpes Nurul Ikhlas Mengaku Kecolongan

Pengawas Ponpes Nurul Ikhlas Mengaku Kecolongan

Polres Padangpanjang menggelar konferensi pers terkait kasus penganiayaan santri di salah satu pondok pesantren di kawasan Padangpanjang. (de)

PADANGPANJANG – Pengawas Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Firmansyah mengaku telah kecolongan dalam pengawasan santri sehingga tidak mengetahui ada tindak kekerasan terjadi di kamar asrama putra. Pihak Ponpes baru mengetahui perihal penganiayaan terhadap santri bernama Robby (17) setelah korban dibawa ke RSUD Padangpanjang.

Pihak rumah sakit mengatakan bahwa dari pemeriksaan, korban telah mengalami penganiayaan. Korban dibawa ke RSUD pada Senin (11/2) dini  hari setelah dilaporkan beberapa santri lainnya dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, para santri melaporkan kepada pengawas bahwa temannya tidak sadarkan diri, dengan alasan korban telah mengalami kerasukan. Menanggapi hal tersebut kami membawa kerumah sakit, dan barulah disana kita mengetahui hal tersebut,” jelasnya.

Sementara, Kapolres Padangpanjang, AKBP. Cepi Noval, SIK melalui Kasat Reskrim IPTU. Kalbert, SH saat jumpa pers, Kamis (14/2) didampingi didampingi Kabag Ops, Kompol Rudi Munandar, SH, MH dan Kapolsek X Koto AKP. Rita Suryanti, mengatakan, kasus kekerasan yang dialami Robby diduga dilakukan oleh 19 temannya hingga korban tidak sadarkan diri.

“Jumlah santri yang terlibat kasus kekerasan terhadap santri Robby bertambah. Awalnya 17 santri, namun dari hasil intrograsi penyidik diduga dua orang santri lainnya juga terlibat dan sudah kita periksa,” jelas Kalbert.

Peristiwa penganiayaan telah terjadi tiga kali. Pertama pada Kamis (7/2). Selanjutnya, Jumat (8/2) dan terakhir Minggu (10/2) malam yang mengakibatkan korban koma.

Dari pemeriksaan terhadap saksi-saksi, tindak kekerasan bermula diduga karena perilaku korban yang mengambil barang santri-santri lain tanpa izin. Tindakan korban memicu kejengkelan santri lain sehingga melakukan tindak kekerasan, yang dilakukan berulang kali pada malam hari.

“Pemukulan dilakukan santri-santri tersebut di kamar asrama putra lantai dua. Dan disana kita mengamankan barang bukti sepasang sepatu boot dan tangkai sapu patah yang diduga dipakai untuk menganiaya korban. Hingga kini kami masih coba mengumpulkan barang bukti lainnya,” katanya. (de)

Berita Terkait

Leave a Reply