AGAM – Pemkab Agam melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berencana menghijaukan area bekas bencana longsor dan galodo di kawasan Salingka Danau Maninjau.
“Kami baru saja meninjau area bekas bencana longsor dari udara, bersama pihak BPBD Sumbar, BPBD Agam, BNPB, dan pihak terkait tingkat Sumbar dan Agam, menggunakan helikopter BNPB,” ujar Kadishutbun Agam, Ir. Yulnasri, MM, Senin (4/1).
Usai peninjauan udara, pihaknya bersama BPBD Agam akan melakukan survei darat. Survei darat diperlukan untuk bahan perencanaan kegiatan, seperti bibit tanaman apa yang cocok untuk rencana penghijauan dimaksud.
Survei juga meliputi aliran sungai dan bandar yang perlu dibersihkan. Mungkin ada aliran sungai atau badar yang dipenuhi material, yang menghalangi kelancaran aliran air.
“Di samping menanami area bekas bencana dengan tanaman penghijauan, aliran sungai da bandar juga akan dibersihkan, agar aliran air lancar, dan tidak lagi menimbulkan ancaman terhadap warga dan lingkungan sekitar” ujarnya.
Sedangkan Kalak BPBD Agam, Bambang Warsito, S.Sos, M.Si menjelaskan, kegiatan survei tersebut bertujuan untuk meninjau kondisi sungai dan lingkungannya, dalam program kesiapan Sumbar dalam menghadapi bencana.
“Menurut rencana, bulan ini akan dilaksanakan survei,melibatkan pihak terkait,” ujar Bambang.
Peninjauan melalui udara, yang diikuti Kepala BPBD Sumbar, Zulfiatno,serta unsur Muspida Sumbar dan Agam, merupakan tindakan awal. Lokasi yang ditinjau baru seputaran Danau Maninjau,Kecamatan Tanjung Raya.
Karena sungai bukan hanya ada di Kecamatan Tanjung Raya, dan kecamatan rawan bencana juga banyak di Agam, maka Bambang berharap di kecamatan lainnya juga dilakukan survei. Kecamatan rawan bencana di daerah itu, selain Tanjung Raya, antara lain Kecamatan Canduang, Palupuh, Malalak, Palembayan, Ampek Nagari, dan Lubuk Basung. (fajar)






