
PADANG – Merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika Serikat saat ini bukan karena pelemahan rupiah, tetapi adalah karena penguatan US Dollar. Pelemahan mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga dialami oleh banyak negara di dunia.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat, Puji Atmoko dalam pertemuan dengan sejumlah pimpinan media massa di Padang, Selasa (8/9) malam menerangkan hal itu. Menurutnya, sejumlah negara di dunia bahkan mengalami pelemahan mata uang yang lebih besar dari Indonesia, seperti Malaysia dan Turki. Bahkan, Brasil mengalami pelemahan terhadap US Dollar sampai 40 persen.
Kondisi ini, meski tetap berdampak negatif terhadap perekonomian, namun masih bisa mengambil dampak positif dengan menggenjot nilai ekspor. Langkah meningkatkan ekspor akan menjadi penyeimbang bagi perekonomian nasional ketika nilai tukar Rupiah melemah seperti kondisi sekarang ini.
Ia melihat, pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini tidak begitu berpengaruh terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Gejolak yang ditimbulkan tidak seperti pada saat krisis moneter yang terjadi tahun 1998. Artinya, pelemahan Rupiah saat ini tidak terlalu berdampak kepada ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
Ia membandingkan, beberapa negara di dunia yang juga mengalami pelemahan mata uang seperti Indonesia yang berada pada level 14 persen. pelemahan mata uang Malaysia justru berada di bawah Indonesia pada level 23 persen. Singapura dan Cina pun terkena dampak penguatan US dollar.
“Negara di Asia yang saat ini tetap kuat adalah Jepang yang mengalami pelemahan di bawah 1 persen,” ujarnya.
Puji memperkirakan, pelemahan nilai tukar mata uang sejumlah negara tersebut terhadap US Dollar tidak akan bertahan lebih lama. Saat ini, pasar menunggu kebijakan bank sentral Amerika Serikat The Fed yang akan menaikkan suku bunga. Jika suku bunga (Federal Fund Rate/FFR) tersebut telah dinaikkan, maka secara perlahan nilai tukar Rupiah akan kembali menguat. (feb)






