
PADANG – Provinsi Sumatera Barat mengalami deflasi pada bulan Pebruari 2017. Pergerakan harga bulanan Sumatera Barat pada Pebruari mengalami deflasi 0,17 persen (month to month/ mtm), menurun dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,53 persen. Deflasi bulanan ini merupakan yang terdalam ke-7 (tujuh) secara nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat Puji Atmoko selaku Wakil Ketua Tim Ahli Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mengungkapkan, pergerakan harga bulanan Sumatera Barat berlawanan arah dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,23 persen (mtm). Secara tahunan, laju inflasi Sumbar yang tercatat 4,45 persen (year on year/yoy) telah berada di atas laju inflasi nasional sebesar 3,83 persen (yoy).
“Namun demikian, secara tahun berjalan (year to date/ ytd), dari Januari ke Pebruari 2017, laju inflasi Sumbar 0,36 persen (ytd) masih berada di bawah laju inflasi nasional sebesar 1,21 persen (ytd),” ungkap Puji melalui siaran pers yang diterima padangmedia.com, Kamis (2/3).
Dia menambahkan, laju deflasi bulanan (mtm) Sumbar pada Pebruari 2017 merupakan yang terdalam ke-7 (tujuh) setelah deflasi Jambi (-1,26 persen, mtm), Bangka Belitung (-0,81 persen, mtm), Maluku (-0,61 persen, mtm), Sumatera Utara (-0,59 persen, mtm) Papua (-0,44 persen, mtm) dan Riau (-0,31 persen, mtm).
“Secara spasial bulanan, pergerakan harga Sumbar disumbang oleh pergerakan harga di Kota Padang dan Bukittinggi yang masing-masing tercatat deflasi 0,13 persen (mtm) dan 0,45 persen (mtm), sehingga menjadikan Kota Padang dan Bukittinggi sebagai kota dengan deflasi terdalam ke-17 dan ke-10 dari 82 kota sampel inflasi di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Deflasi mendalam pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) menjadi sumber utama deflasi Sumbar pada Pebruari. Pergerakan harga bulanan volatile food tercatat deflasi sebesar 2,05 persen (mtm), lebih dalam dibandingkan Januari 2017 yang hanya deflasi 1,38 persen (mtm).
Deflasi kelompok volatile food menurut Puji, disumbang oleh turunnya harga cabai merah, daging ayam ras dan beras yang masing-masing memberi andil deflasi sebesar 0,41 persen (mtm), 0,09 persen (mtm) dan 0,04 persen (mtm). Penurunan harga komoditas tersebut akibat melimpahnya pasokan di pasar seiring dengan masih berlanjutnya panen cabai merah hingga Maret 2017.
Sementara itu, operasi pasar beras yang dilakukan oleh Bulog selama Pebruari 2017 sebanyak 235 ton tersebar di Pasar Raya, Siteba, Bandar Buat, Alai dan Lubuk Buaya berdampak pada turunnya harga beras. Penurunan harga kelompok volatile food sedikit tertahan dengan kenaikan harga jengkol dan minyak goreng yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,03 persen (mtm).
Pada kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price), terjadi peningkatan harga di bulan Februari 2017 menjadi 0,93 persen (mtm) dari yang sebelumnya 0,82 persen (mtm) di Januari 2017. Peningkatan harga pada kelompok ini disumbang oleh Tarif Tenaga Listrik (TTL) yang memberi andil inflasi sebesar 0,17 persen (mtm) seiring dengan kebijakan kenaikan TTL pascabayar untuk golongan berdaya 900 VA.
Pada kelompok inti (core), terjadi peningkatan harga di Pebruari 2017 menjadi 0,30 persen (mtm), dengan laju yang lebih rendah dibandingkan Januari yang mencapai 1,43 persen (mtm). Peningkatan harga kelompok ini disumbang oleh kenaikan tarif pulsa ponsel sebesar 0,05 persen (mtm), harga mobil 0,04 persen (mtm) dan emas perhiasan yang memberi andil 0,03 persen (mtm).
Kenaikan tarif pulsa ponsel disebabkan oleh kenaikan tarif panggilan per menit yang dilakukan oleh salah satu provider. Kenaikan harga mobil merupakan dampak dari penyesuaian harga mobil dengan tahun produksi 2017 yang dilakukan oleh sejumlah Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM).
“Sementara kenaikan harga emas perhiasan merupakan dampak dari tren kenaikan harga emas global yang mempengaruhi harga emas domestik,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Puji menyebutkan, kelompok bahan pangan bergejolak, kelompok barang yang diatur pemerintah dan kelompok inti memberi andil masing-masing sebesar -0,54 persen (mtm); 0,22 persen (mtm); dan 0,15 persen (mtm) dari inflasi bulanan Sumbar -0,17 persen (mtm). (feb/*)






