
PADANG – Setelah mengalami inflasi tipis pada bulan Maret lalu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Barat pada April 2017 kembali mengalami deflasi. Melimpahnya pasokan bahan pangan menjadi pemicu terjadinya deflasi hingga 0,30 persen (month to month/ mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat Puji Atmoko, Rabu (3/5) menyebutkan, pergerakan IHK tersebut berlawanan arah dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,09 persen (mtm).
“Pergerakan harga bulanan Sumbar pada April 2017 mencatatkan deflasi 0,30 persen (mtm), kembali menurun dari sebelumnya inflasi tipis sebesar 0,02 persen (mtm) di Maret 2017. Pergerakan itu berlawanan arah dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,09 persen (mtm),” kata Puji Atmoko.
Dia menambahkan, secara tahunan, laju inflasi Sumbar yang tercatat 4,56 persen (year on year/yoy) telah berada di atas laju inflasi nasional sebesar 4,17 persen (yoy). Namun demikian, secara tahun berjalan, dari Januari ke April 2017, laju inflasi Sumbar 0,07 persen (year to date/ytd) berada di bawah laju inflasi nasional sebesar 1,28 persen (ytd).
Menurutnya, laju deflasi bulanan Sumbar pada April 2017, merupakan yang terdalam ke-5 dari 13 provinsi yang mengalami deflasi. Secara spasial bulanan, pergerakan harga Sumbar disumbang oleh Kota Padang dan Bukittinggi yang masing-masing tercatat deflasi 0,31 persen (mtm) dan 0,18 persen (mtm).
“Kondisi tersebut menjadikan Kota Padang sebagai kota dengan deflasi terdalam ke-9 dan Bukittinggi sebagai kota dengan deflasi terdalam ke-16 dari 29 kota yang mengalami deflasi di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Puji menerangkan, deflasi pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) menjadi pendukung deflasi dengan pergerakan harga deflasi sebesar 2,58 persen (mtm). Pergerakan ini lebih dari deflasi pada Maret 2017 lalu yang sebesar 0,05 persen (mtm).
Deflasi pada volatile food utamanya disumbang oleh turunnya harga cabai merah, daging ayam ras dan bawang merah yang memberikan andil masing-masing sebesar 0,57 persen, 0,07 persen dan 0,03 persen. Penurunan harga komoditas tersebut khususnya cabai merah sebagai akibat melimpahnya pasokan di pasar baik yang berasal dari cabai lokal maupun cabai Jawa.
“Penurunan harga kelompok volatile food sedikit tertahan dengan kenaikan harga petai dan jengkol yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,05 persen (mtm) dan 0,03 persen (mtm),” ujarnya.
Sementara itu, pada kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price), Puji menyebutkan terjadi inflasi di bulan April 2017 sebesar 1,25 persen (mtm) dari sebelumnya deflasi 0,04 persen (mtm). Kenaikan ini disumbang oleh Tarif Tenaga Listrik (TTL) dengan andil sebesar 0,26 persen (mtm) seiring dengan pencabutan subsidi lanjutan golongan rumahtangga mampu berdaya 900 VA pascabayar.
Disamping itu, angkutan udara turut memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen (mtm) seiring banyaknya periode peak season pada April 2017. Kenaikan harga pada komoditas Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin juga memberi andil inflasi sebesar 0,01 persen (mtm) seiring dengan penyesuaian harga Bahan Bakar Khusus (BBK) yaitu Pertamax dan Dexlite.
Pada kelompok inti (core), terjadi peningkatan harga di April 2017 sebesar 0,15 persen (mtm), dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan Maret 2017 yang mencapai 0,08 persen (mtm). Peningkatan harga kelompok inflasi inti ini disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan dan tarif pulsa ponsel yang memberi andil inflasi masing-masing sebesar 0,04 persen (mtm) dan 0,02 persen (mtm) seiring dengan kenaikan harga emas global dan penyesuaian tarif panggilan per menit oleh penyedia telekomunikasi.
“Secara keseluruhan, kelompok bahan pangan bergejolak, kelompok barang yang diatur pemerintah dan kelompok inti memberi andil bulanan masing-masing sebesar -0,67 persen (mtm), 0,30 persen (mtm) dan 0,08 persen (mtm) dari deflasi bulanan Sumbar 0,30 persen (mtm),” tandasnya. (feb)






