AGAM – Semenjak pencemaran perairan Danau Maninjau kian parah, pasokan ikan segar dari danau yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam itu merosot tajam.
Pasokan ikan air tawar jenis nila, kini jauh berkurang. Kalaupun ada, itu berasal dari Keramba Jala Apung (KJA) petani ikan di aliran bandar irigasi dari Kampung Ikan Hulu Banda dan nila hasil tangkapan pukek nelayan tangkap warga Salingka Danau Maninjau.
Dengan kelangkaan tersebut menyebabkan harga ikan tersebut menjadi tinggi. “Ya, harganya juga tinggi, sampai Rp30.000/kilo,” kata Sari, pengunjung Pasar Padang Baru Lubuk Basung, Minggu (4/6).
Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Agam, Ermanto, mengakui bahwa produksi ikan segar daerah itu jauh melorot dibandingkan sebelum air Danau Maninjau tercemar.
“Produksi ikan air tawar melorot sekitar 50 persen dari sekitar 70.000 ton/ tahun,” katanya saat dikonfirmasi padangmedia.com.
Meski demikian, katanya, ikan jenis nila sebenarnya masih bisa bertahan hidup bila dilepas di perairan Danau Maninjau. Buktinya, kini nelayan tangkap masih menemukan ikan tersebut. Di pasar rakyat, juga masih banyak ikan nila hasil pukek nelayan Maninjau.
“Ikan masih bisa hidup sampai 10 meter dari permukaan air, karena dengan kedalam tersebut masih ada oksigen,”ungkapnya.
Menurut Ermanto, saat ini, petani ikan sudah mulai mengisi petak KJA mereka. Setiap petak diisi dengan kapasitas 50 persen benih ikan dari biasanya. Kalau biasanya,setiap petak diisi 10.000 ekor benih ikan, kini hanya 5.000 ekor. Ikan tersebut tidak diberi makan, karena air kaya dengan plankton yang menjadi makanan ikan.
“Sudah sekitar 20 persen KJA yang ada di Danau Maninjau kembali diisi benih ikan,” pungkasnya. (fajar)







