
AGAM – Para pedagang pasar terutama yang berada di Kabupaten Agam belahan barat, “mengeluh”, sepinya pengunjung menjadikan omset mereka menjadi jauh lebih berkurang.
Dari pantauan padangmedia.com, sepinya pengunjung didug, akibat rendahnya harga komoditi rakyat, seperti pala dan karet. Hal itu diakui beberapa warga, terutama petani pala dan petani karet.
Salah satunya,Y. St. Sarialam, petani pala di Kecamatan Tanjung Raya. Ia mengaku harga pala sedang jatuh. Jatuhnya tidak tanggung-tanggung. Buah pala matang, yang biasanya laku di pasar sampai Rp50 ribu/kg, kini dibeli pedagang Rp20.000/kg.
“Bunga pala, hanya laku sekitar Rp80.000 sampai Rp90.000/kg. Biasanya dibeli pedagang Rp180.000 sampai Rp190.000/kg,” ujarnya kepada Padangmedia.com, Senin (14/12).
Harga Karet pun juga begitu. Karet hanya berkisar antara antara Rp5.000 sampai Rp6.000/kg. Dengan harga seperti itu, petani karet sulit mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi bagi keluarga yang memiliki anak di perguruan tinggi dan sekolah menengah.
Seperti yang dikatakan petani karet, Adnan (37), Warga Nagari Batu Kambing, Kecamatan Ampek Nagari itu mengaku kesulitan ekonomi saat ini.
“Susahnya, sudahlah harga karet murah, kami tidak bisa menakik akibat hujan selalu turun sore sampai malam hari,” ujar ayah tiga anak tersebut.
Nagari Batu Kambing dan Sitalang, Kecamatan Ampek Nagari, merupakan penghasil utama karet di Kabupaten Agam. Sebelum ada sawit, karet merupakan komoditi utama warga kedua nagari tersebut.
Mereka berharap, adanya perhatian pemerintah terhadap permasalahan yang sedang mereka hadapi, karena satu-satunya mata pencarian masyarakat hanya bertani atau berkebun. (fajar)






