
SAWAHLUNTO – Paguyuban Batak Dos ni roha Kota Sawahlunto menyuguhkan kesenian tradisional Gordang Sambilan pada rangkaian Multikultural festival di Silo Tiga Ombilin, Sabtu (28/11) malam. Gordang Sambilan merupakan warisan seni dan budaya masyarakat Mandailing yang merupakan salah satu suku di tanah Batak yang dianggap sakral.
Terdiri dari sembilan gordang berukuran besar dan panjang, gordang sambilan disusun secara bertingkat menurut ukurannya. Terbuat dari kayu yang dilubangi salah satu ujung lobangnya. Kemudian, ujung yang lain dituutp dengan menggunakan membran terbuat dari kulit lembu.
Alat musik yang punya belasan irama Gordang Sambilan, ada Gordang Tua, Gordang Manngora Bula Tula, Gordang Sampuara Batu Magulang, Gordang Roba na Mosok, Gordang Ranggas Na Mule-Mule, Gorbang Siutur Sanggul, Gordang Gordang Potir, Gordang Sarama, Gordang Parnungnung, Bombat, dan Bombat Jogo-Jogo. Kesenian ini akan meyemarakkan Hari Jadi Kota (HJK) Sawahlunto ke 127.
Ketua Paguyuban Batak, S Hutagaol menyatakan, kali ini konsep pertunjukan akan difokuskan kepada penampilan kesenian tradisional Gordang Sambilan yang akan ambil bagian dari rangkaian kegiatan penampilan multi etnik di kota ini.
“Kehadiran Gordang Sambilan ini tak terlepas dari bantuan dari salah seorang pengusaha, yakni Jhon Refelta Bara Mitra Kencana dikota ini,” sebut Hutagaol kepada padangmedia.com saat persiapan acara ini.
Pria purnawirawan TNI AD itu menambahkan, sebagai etnik yang terus menjadi salah satu yang ada di tengah-tengah warga Kota Sawahlunto, ia sangat berterima kasih mendapatkan ruang dan kesempatan yang sama oleh pemerintah daerah.
“Kesempatan ini kita manfaatkan untuk melestarikan senidan budaya yang ada di tanah leluhur agar tetap lestari. Dan kepada
anak-anak serta generasi muda akan menjadi tanggungjawab untuk tetap melestarikannya,” pungkasnya. (tumpak)






