
PADANG – Pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat pada bulan Oktober 2018 mengalami inflasi, setelah dua bulan sebelumnya deflasi. Faktor cuaca memberikan tekanan terhadap inflasi Sumatera Barat dengan laju inflasi tercatat sebesar 0,81 persen (month to month/mtm).
Anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat Bimo Epyanto menyebutkan, laju inflasi Sumatera Barat pada Oktober 2018 lebih tinggi dari inflasi nasional dengan besaran mencapai 0,28 persen (mtm). Secara spasial, dua kota sampel yaitu Kota Padang dan Bukittinggi, masing-masing mengalami inflasi dengan besaran 0,80 persen (mtm) dan 0,29 persen (mtm).
“Laju inflasi Sumatera Barat pada Oktober tercatat sebesar 0,81 persen (mtm) atau naik dibandingkan bulan September yang mengalami deflasi sebesar 0,30 persen (mtm),” kata Bimo, Jumat (2/11).

Secara tahunan, ujarnya, perkembangan harga Sumatera Barat mencatat inflasi sebesar 3,29 persen (year on year/yoy) atau lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 3,16 persen (yoy), namun masih dalam kisaran sasaran inflasi 3,5 persen + 1 persen. Secara kalender tahun berjalan, laju inflasi kumulatif Januari sampai Oktober 2018 berada pada 2,13 persen atau sedikit di bawah nasional sebesar 2,22 persen (year to date/ytd).
” Berdasarkan realisasi inflasi bulanan tersebut, Sumatera Barat terpantau sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi ke-3 di Sumatera dan tertinggi ke-4 dari 28 provinsi yang mengalami inflasi secara nasional,” terangnya.
Bimo menguraikan, meningkatnya harga kelompok bahan makanan dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar menjadi pendorong utama inflasi IHK umum pada Oktober 2018. Kenaikan harga cabai merah dan beras mendorong inflasi Sumatera Barat dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,43 persen (mtm) dan 0,14 persen (mtm).

“Naiknya harga cabai merah disebabkan oleh berkurangnya pasokan dari sentra produksi baik dari dalam dan luar Sumatera Barat akibat faktor cuaca. Sementara Sementara itu, peningkatan harga beras terjadi karena akibat cuaca kurang kondusif yang menghambat produksi dan proses penjemuran gabah,” ulasnya.
Sedangkan dari kelompok perumahan, air, listrik, gas, bahan bakar sumbangan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga bensin dan bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,08 persen (mtm) dan 0,02 persen (mtm). Kenaikan harga bensin terjadi merupakan imbas dari kebijakan penyesuaian harga BBM non subsidi yang ditetapkan pada tanggal 10 Oktober 2018.
Di sisi lain, inflasi lebih lanjut tertahan seiring dengan masih berlanjutnya deflasi komoditas bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Masih terjaganya pasokan bawang merah akibat panen dari dalam dan luar Sumatera Barat menjadi penyebab penurunan harga komoditas tersebut. Sedangkan deflasi pada harga daging ayam ras dan telur ayam ras merupakan imbas dari melimpahnya pasokan dari peternak.
Menghadapi berbagai risiko yang ada, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sumatera Barat secara aktif melakukan berbagai upaya dalam pengendalian inflasi di daerah. Upaya pengendalian inflasi selama tahun 2018 terutama difokuskan pada pada stabilitas harga komoditas penyumbang inflasi (terutama beras, cabai merah, bawang merah, telur ayam, dan daging ayam ras).
Dalam rangka stabilisasi harga beras, Bulog Divre Sumatera Barat selama Oktober 2018 telah melakukan operasi pasar untuk komoditas beras sebanyak 1.141 ton. Secara agregat, operasi pasar Bulog untuk komoditas beras sepanjang tahun 2018 (Januari – Oktober) adalah 6.068 ton untuk seluruh Sumatera Barat. Selain itu, TPID Sumatera Barat secara konsisten melakukan penguatan sinergi dan koordinasi pengendalian inflasi di tingkat provinsi dan kab/kota di seluruh Sumatera Barat. (fdc/*)






