Museum BI Aplikasikan Konsep Smart Museum
  • Home
  • Berita
  • Museum BI Aplikasikan Konsep Smart Museum

Museum BI Aplikasikan Konsep Smart Museum

5558a8bcd1304f77a9afb3ba00be70c4MBIHDR3.jpg
Museum BI di Jakarta. (ist)

JAKARTA – Setelah dilengkapi dengan sebuah ruang besar yang berfungsi sebagai auditorium, Bank Indonesia memfungsikan museumnya sekaligus sebagai wahana edukasi. BI ingin mengaplikasikan “smart museum” pada bangunan tua yang merupakan kantor pertamanya itu.

“Kami mulai berfikir untuk mengaplikasikan konsep smart museum, bukan sekedar sebagai tempat memajang berbagai peninggalan bersejarah,” kata Kepala Pengelolaan Aset dan Pengelola Museum BI, Yiyok T Herlambang, Rabu (18/11).

Auditorium tersebut, katanya, difungsikan sebagai tempat “sharing” ilmu pengetahuan seputar ekonomi moneter terutama kepada para mahasiswa yang datang berkunjung. Selain itu, tentu saja memperkenalkan Bank Indonesia sebagai bank sentral secara lebih dalam termasuk sejarah perjalanannya.

“Ini kami fikir sangat bermanfaat, terutama bagi pengunjung mahasiswa. Mereka dibagi ilmu mengenai ekonomi moneter dan segala hal yang berkaitan dengan perbankan dan tentu saja mengenai Bank Indonesia sendiri,” ujarnya.

Museum BI merupakan gedung pertama yang ditempati Bank Indonesia. Gedung ini berlokasi di kawasan Kota tua Jakarta dan merupakan gedung tua termegah di Jakarta setelah Istana Negara.

Bank Indonesia pada masa kolonial Belanda bernama De Javasche Bank dan berubah menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953 dengan Gubernur pertama Mr. Syafruddin Prawiranegara.

Untuk tingkat kunjungan ke museum BI, menurut Herlambang antara 300 sampai 400 orang per hari pada hari biasa. Pada hari Sabtu dan Minggu, tingkat kunjungan bisa di atas seribu orang dengan rata-rata kunjungan per bulan antara 14 ribu sampai 15 ribu orang.

Hal ini dibenarkan Rama, pemandu di Museum BI. Menurutnya, pada Juni tingkat kunjugan mencapai 14 ribu orang, Juli 15 ribu dan pada Agustus bahkan mencapai 19 ribu orang.

“Pengunjung terdiri dari masyarakat umum, mahasiswa dan pelajar serta pengunjung mancanegara,” kata Rama.

Ditambahkan, untuk pengunjung mancanegara, rata-rata per bulan berkisar antara 300 sampai 400 orang.

Sementara itu, mengunjungi museum BI memberikan banyak edukasi. Selain mengetahui seluk beluk sejarah BI, pengunjung juga bisa mendapatkan pemahaman lebih dalam mengenai fungsi BI dalam perekonomian Indonesia.

“Berkunjung ke sini (museum BI, red) mendapatkan banyak sekali pengetahuan. Mulai dari sejarah sampai kepada fungsi BI dan juga perkembangan perekonomian nasional,” kata Della Mestika, salah seorang pengunjung. (feb)

Berita Terkait

Leave a Reply