Merawat Tradisi dalam Kesederhanaan

Merawat Tradisi dalam Kesederhanaan

Anggota Sanggar Limpapeh Rumah Nan Gadang Jorong Kawai, Batubulek, Kec.Lintau Buo Utara, Kab.Tanah Datar, Sumatera Barat dalam sebuah penampilan di sanggar. (ist)

Oleh Melda Riani

Tempat latihan itu begitu sederhana. Hanya bangunan tak berdinding, beratap plastik terpal, dan berlantai tanah dengan beberapa tiang pancang. Di tiga sisinya dibuat bangku panjang dari bambu yang diperuntukkan bagi penonton.

Berada di sebuah tanah bekas balai-balai adat, tanpa ada bangunan lainnya. Jika dibenahi dan dibuat bangunan permanen yang layak, mungkin akan menjadi tempat yang sangat bagus. Apalagi jika siang hari, di depannya terpajang panorama alam yang indah dengan view penuh Gunung Sago.

Namun, tempat sederhana yang berlokasi di Jorong Kawai Nagari Batubulek, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat itu, tak menyurutkan semangat para pemuda dan pelajar SD, SMP dan SMA serta sebagian ibu-ibu yang kesehariannya ada yang guru dan bertani. Mereka adalah peserta sanggar yang diberi nama ‘Limpapeh Rumah Nan Gadang’. Dalam bahasa Minang berarti sejenis kupu-kupu besar di Rumah Gadang (rumah adat Minang, red), simbol untuk kedudukan terhormat bagi perempuan Minang yang mendiami rumah gadang.

Bahkan, saat latihan Sabtu (14/4) malam lalu, gerimis yang membuat tubuh makin menggigil tak menyurutkan langkah mereka untuk berlatih naskah randai ‘Lareh Simawang’. Sebuah kisah satire tentang seorang pemimpin nagari yang ‘kawin batambuah’ atau beristri lagi.

Randai adalah seni pertunjukan tradisional Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran. Randai menggabungkan seni lagu, tari, drama, musik dan silat menjadi satu. Naskah randai biasanya berisi pesan-pesan moral dan nasehat. Selain Lareh Simawang, Sanggar Limpapeh juga memainkan naskah Panglimo Gagah dan Rambun Pamenan.

Beberapa minggu sebelumnya, peserta sanggar berlatih sandiwara berjudul ‘Limpapeh Rumah Nan Gadang’. Judul sandiwara yang sekaligus dijadikan nama sanggar. Sandiwara itu pula yang menginspirasi pemuda setempat untuk mendirikan sanggar. Berjuang secara swadaya untuk membangun sebuah mimpi: menggairahkan kembali tradisi yang dulunya menjadi kebanggaan kampung itu.

Tak berlebihan memang. Dulunya kampung itu terkenal dengan sandiwara rakyat, sebagaimana populer di daerah-daerah lain di Sumbar sekitar tahun 60-an dan 70-an. Setiap libur sekolah, hampir dipastikan sandiwara rakyat digelar bersamaan dengan penampilan seni tradisi lainnya. Saking seringnya dimainkan, dialog dalam ‘Limpapeh Rumah Nan Gadang’ banyak yang hapal di luar kepala. Naskah ditulis oleh Muslim (alm), mantan dosen ASKI Padangpanjang (sekarang ISI) dan berkisah tentang konflik antara pemuda, hubungan mamak dan kemenakan, percintaan dan tradisi-tradisi masyarakat Minang zaman dahulu.

Berangkat dari keinginan untuk membangkitkan lagi semangat tradisi dan membangun kampung, maka digelarlah sandiwara tersebut pada momen lebaran Idul Fitri tahun 2017 lalu, setelah sekian lamanya terbenam. Aktornya? Warga asli Jorong Kawai yang kesehariannya kebanyakan bertani.

Sukses dan mendapat antusias luar biasa dari masyarakat kampung dan perantau, akhirnya menginspirasi pemuda setempat untuk membuat sanggar. Dengan begitu, mereka bisa lebih fokus dan berkesinambungan dalam latihan.

Penampilan sandiwara rakyat ‘Limpapeh Rumah Nan Gadang’ saat lebaran Idul Fitri tahun 2017, dimainkan oleh masyarakat setempat. (ist)

Namun tak hanya sandiwara, sanggar itu juga mengajarkan kesenian khas Minang lain, seperti randai, saluang, talempong, silek (silat, red) dan tari-tarian. Untuk pengajar, kampung itu punya cukup banyak tenaga potensial. Darah seni seperti potensi yang diwariskan secara turun-temurun.

Guru randai adalah Refdawati, seorang guru kesenian di Batusangkar, sekitar 20 kilometer dari jorong itu. Demi meneruskan tradisi bagi generasi muda, Refdawati yang merupakan warga asli rela tak diberi honor, bahkan merogoh koceknya sendiri.

Ketua Sanggar Limpapeh Rumah Nan Gadang, Ronaldo (23) kepada padangmedia.com mengatakan, anggota sanggar saat ini sudah sekitar 30 orang. Sejauh ini, peralatan masih meminjam. Dananya secara swadaya dengan mengumpulkan uang, meski hanya ada yang seribu rupiah. Sedangkan untuk bangunan sanggar, selain swadaya, anggota juga berusaha mendapatkan donasi dari pihak luar dengan menjalankan sumbangan.

Setelah hampir setahun berjalan, anggota sanggar sudah pernah tampil di Batang Panjang, Kabupaten Sijunjung, Sumbar. Pernah pula ada undangan untuk tampil ke Bangko, Provinsi Jambi. Sayangnya, undangan tersebut terpaksa diabaikan karena ketiadaan dana, baik untuk ongkos pergi maupun pakaian dan peralatan.

Ronal bermimpi suatu saat sanggar akan memiliki fasilitas lengkap, baik pakaian randai, talempong, ataupun keyboard.  Ia juga berkeinginan bisa tampil di tempat-tempat lain, paling tidak di kecamatan. Namun, lagi-lagi masalah pendanaan membuat keinginan itu belum terwujud.

Menurutnya, aktifitas sanggar sangat berdampak positif bagi pemuda-pemuda desa. Bila sebelumnya mereka suka main dan duduk-duduk di warung dan terkadang terlibat judi, sekarang setiap  minggu sudah memiliki kegiatan. Ia juga yakin aktifitas sanggar akan membuat jorong itu semakin dikenal dan menambah perekonomian warga. Karena, sudah ada kunjungan balasan dari grup randai dari Sijunjung, tempat mereka pernah tampil.

Untuk menjaga eksistensi, anggota sanggar menawarkan diri tampil di acara pesta-pesta pernikahan atau sunatan yang digelar masyarakat setempat. Mereka tampil untuk memainkan randai di malam sebelum pesta.

Ke depan, Ronal berharap sanggar akan terus bertahan dan berkembang. Keinginan lainnya agar mereka memiliki peralatan yang lengkap serta tempat latihan yang permanen sehingga memungkinan untuk tampil-tampil ataupun mengundang orang luar untuk menyaksikan penampilan mereka.

Sementara itu, salah seorang praktisi pendidikan di kampung itu, Dra.Irma Oktayani sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan anak-anak muda dan pelajar tersebut. Ia mengaku, untuk penanaman nilai-nilai tradisi leluhur dan kearifan lokal, seharusnya memang ada peran sekolah dalam hal itu. Namun, beban kurikulum yang berat sejauh ini tak memungkinan untuk itu. Karenanya, keberadaan sanggar-sanggar ataupun komunitas seni yang tumbuh dari bawah sangat membantu. Proses pendidikan dan pembudayaan tak mutlak selalu dari sekolah atau institusi pendidikan formal.

Ia melihat, dengan adanya sanggar, paling tidak ada kebiasaan yang berubah. Jika biasanya anak-anak muda banyak yang suka menghabiskan hari dengan duduk-duduk di warung ataupun tempat lain, kini mereka sudah punya kegiatan yang terarah.

Irma yang merupakan Kepala MTsN Batubulek tersebut mengatakan, untuk setingkat madrasah/SMP, kegiatan kesenian paling hanya dijadikan sebagai ekstra kurikuler. Tapi, karena beratnya beban pelajaran, ekskul sering menjadi yang di belakang. Bahkan, nyaris tak ada waktu untuk ekskul.

“Jika masih ada waktu bisa dilakukan, tapi jika tidak, yah tidak ada. Artinya, tidak menjadi prioritas. Mungkin lain halnya dengan SD yang sudah menerapkan full day school, ada waktu untuk pengembangan bakat. Kalau di madrasah, paling hanya bersifat insidentil, jika ada acara saja,” katanya.

Menurutnya, kebudayaan yang sudah berjalan turun-temurun perlu diperkuat melalui institusi pendidikan. Semisal di Minangkabau, ada adat salingka nagari, sambah manyambah (persembahan kata-kata menggunakan kata-kata klasik, petatah petitih serta pantun-pantun), adat perkawinan dan lainnya.

“Mestinya itu diturunkan kepada generasi muda. Jika tidak, tentu tidak akan ada kaderisasi. Tapi kalau memang tidak bisa di sekolah, masyarakat bisa melakukannya di luar sekolah, seperti melalui wadah remaja mesjid di mana ada bidang sosial budayanya,” papar Irma.

Dengan persoalan generasi muda yang sangat kompleks, termasuk ancaman narkoba dan perilaku yang tak sesuai dengan adat dan agama, harus ada solusi komprehensif. Salah satu penyebabnya mungkin karena pengaruh globalisasi serta pergeseran nilai-nilai di tengah masyarakat. Seperti di Minangkabau dulunya surau sangat berperan dalam pembentukan generasi yang qurani dan berkarakter, tapi sekarang perannya semakin berkurang. Akibatnya, generasi muda semakin jauh dari religi dan adat istiadat.

Namun, beberapa waktu terakhir, khususnya di Jorong Kawai, selain ada sanggar, juga ada rumah tahfiz serta kegiatan remaja masjid yang mulai aktif. Semuanya diharapkan bisa menjadi wadah bagi generasi muda dan pelajar untuk membangun karakter sehingga menjadi manusia-manusia dengan perilaku terdidik dan berbudaya.

Guru kesenian di SD Jorong Kawai, Rita Andriani pun berpendapat sama. Menurutnya, sejauh ini beberapa seni tradisi dan budaya daerah sudah diajarkan di sekolah. Seperti di kelas enam, siswa diajarkan sambah manyambah makan, sambah anak daro, adat perkawinan dan lainnya. Sementara di kelas lebih rendah diajarkan sambah manyambah dan etika duduak baselo (duduk bersila). Meski diakuinya itu belum mencukupi untuk menanamkan nilai-nilai tradisi bagi anak. Apalagi biasanya, yang diprioritaskan adalah materi sesuai kurikulum, sedangkan hal-hal seperti seni tradisi hanya sampingan. Ia malah khawatir dengan penerapan K-13 yang dimulai tahun depan di sekolah itu, karena siswa belajar sesuai tematik.

“Mudah-mudahan ada formula lain agar pendidikan dan kebudayaan saling mengisi dan menguatkan serta peserta didik tetap bisa mewarisi dan mencintai seni budaya lokal,” harapnya. (Penulis adalah wartawan di padangmedia.com)

Berita Terkait

Leave a Reply