
PADANG – Intensitas penjualan sapi semakin meningkat, seiring datangnya hari raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1438 H. Pasar ternak pun mulai ramai dengan aktifitas pedagang dan pembeli yang akan mencari sapi untuk keperluan berkurban lebaran haji.
Di sejumlah pasar ternak di Sumatera Barat, tradisi unik pedagang dan pembeli ternak sapi adalah “Marosok”. Tradisi ini unik karena dalam tawar menawar ternak sapi, antara pedagang dan pembeli tidak berkomunikasi secara lisan, tetapi meggunakan suatu kode tertentu dengan memegang ruas jari tangan.
Uniknya lagi, memegang jari tangan ini dilakukan di balik sebuah kain atau penutup sehingga yang tahu harga ternak dimaksud hanya antara orang yang sedang bertransaksi. Seperti di Pasar Ternak Nagari Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto Kabupaten Padang Pariaman.
Di pasar tersebut, sudah berlangsung tradisi membeli sapi dengan sistim “marosok” sejak pasar itu dibuka. Pasar ternak Sungai Sariak tidak buka setiap hari atau setiap pekan, hanya pada hari-hari tertentu saja.
“Tradisi sistim tawar menawar dengan cara marosok ini sudah berlangsung sejak lama. Dengan marosok, hanya penjual dan pembeli yang tahu harga sapi yang sedang ditawar,” kata Tasman Toyo, salah seorang pedagang ternak di pasar tersebut, Kamis (24/8).
Dia mengungkapkan beberapa kode yang ditunjukkan melalui “marosok”. Seperti lima jari seluruhnya digenggam berarti harganya Rp5 juta. Ketika salah seorang diantara penjual atau pembeli menunjukkan ibu jari, bisa berarti Rp25 juta, Rp2,5 juta atau Rp250 ribu. Jari telunjuk bisa berarti Rp10 juta, Rp1 juta atau Rp100 ribu.
“Marosok” dalam arti kata bahasa Indonesia kira-kira bisa diartikan meraba. Tradisi ini juga dikenal di beberapa pasar ternak lain di Sumatera Barat. Dalam hal tawar menawar seekor sapi, tidak ada pembicaraan antara penjual dan pembeli.
“Komunikasi jual beli hanya dilakukan melalui kode-kode dengan jari tangan di balik kain tanpa ada pembicaraan lisan antara penjual dan pembeli,” ungkapnya. (feb)






