Malewakan PKM, Merayakan dan Memartabatkan Kebudayaan Minangkabau
  • Home
  • Berita
  • Malewakan PKM, Merayakan dan Memartabatkan Kebudayaan Minangkabau

Malewakan PKM, Merayakan dan Memartabatkan Kebudayaan Minangkabau

Image
Konferensi pers Alek Malewakan PKM di Ladang Seni Nan Jombang, Senin (31/5/2021). (Febry)
Konferensi pers Alek Malewakan PKM di Ladang Seni Nan Jombang, Senin (31/5/2021). (Febry)

PADANG- Berangkat dari pemikiran para tokoh budaya Minangkabau, sebuah pusat literasi budaya digagas sekitar tahun 2011. Tidak sampai di situ, budayawan berpikir untuk mewujudkan sebuah lembaga resmi berbadan hukum.

Akhirnya, dimotori oleh Alwi Karmena, almarhum Mestika Zed, almarhum Darman Moenir dan banyak nama lainnya lahirlah sebuah yayasan bernama Pusat Kebudayaan Minangkabau (PKM) pada tahun 2015.

Selain nama tersebut, ada Edri Yoenif atau dikenal dengan Eko Yanche Edrie, tokoh perempuan Emma Yohana, wartawan senior Hasril Chaniago, Fadli Zon, Ery Mefri, Fasli Jalal, Irman Gusman dan Muhammad Ibrahim Ilyas. Ada juga Nofi Chandra, Shofwan Karim dan Yulizal Yunus.

Nama-nama budayawan tersebut tercatat sebagai pendiri PKM yang dibentuk dengan akta notari tanggal 3 Juli 2015 dan SK Kementerian Hukum dan HAM tanggal 6 Juli 2015 itu. Pada organ dewan pembina juga melibatkan Bundo Kanduang Hajjah Raudha Thaib, Taufiq Thaib, Gamawan Fauzi dan Basril Jabar.

Pada periode pertama, PKM yang bervisikan “Terwujudnya kebudayaan Minangkabau yang Rahmatan Lil ‘Alamin” itu dinakhodai almarhum Profesor Mestika Zed. Dalam perjalanannya, beberapa orang tokoh telah berpulang, terakhir adalah Budayawan Darman Moenir.

Menyikapi kondisi yang terjadi, para pendiri bersepakat untuk melakukan perubahan melalui notaris pada tanggal 22 Februari 2021 dan disahkan melalui SK Kemenkum HAM pada tanggal 24 Februari 2021. Tidak ada perubahan pada komposisi dewan pendiri, namun pada struktur dewan pembina dan kepengurusan dilakukan perubahan, yang seiring dengan masuknya periode kedua kepengurusan PKM tahun 2020-2025.

Pada periode kedua ini, PKM dikomandoi H. Shofwan Karim sebagai ketua umum dan Hasril Chaniago sebagai ketua. Kemudian sekretaris umum dipercayakan kepada Yulizal Yunus, sekretaris Edri Yoenif (Eko Yanche Edrie), bendahara umum Dr. Rahmi Fahmy dan bendahara Rahman Kamil.

Ada struktur dewan pengawas diketuai Ery Mefri dengan anggota H. Zukri Saad dan H. Khairul Jasmi. Kemudian ada sekretaris eksekutif dipercayakan kepaad Muhammad Ibrahim Ilyas.

Dalam pertemuan dengan wartawan di Ladang Tari Nan Jombang, Senin (31/5/2021), Ketua Umum Yayasan PKM periode 2020-2025 Shofwan Karim mengungkapkan, perubahan tersebut dilakukan karena adanya beberapa orang “founding father” PKM yang telah meninggal dunia, sehingga harus ada perbaruan terhadap badan hukum yayasan.

Shofwan menuturkan, berdirinya PKM berangkat dari semangat akan adanya sebuah lembaga yang bergerak secara terus menerus dan sistematis “merayakan” ragam budaya Minangkabau. Shofwan menggarisbawahi menggunakan frasa merayakan, berangkat dari gagasan almarhum Darman Moenir.

“Almarhum (Darman Moenir) menggunakan frasa “merayakan” bukan melestarikan. Alasannya, kalau merayakan memiliki makna terus menyemarakkan dan membesarkan, mengembangkan dan memartabatkan, sedangkan melestarikan hanya kepada “menyimpan” yang sudah ada saja. Ini tidak sejalan dengan gagasan PKM yang dibentuk untuk bergerak secara terus menerus secara sistematis mengikuti dinamika kehidupan masyarakat dari berbagai sisi,” paparnya.

Kebudayaan yang Rahmatan Lil ‘Alamin

Budayawan Sumatera Barat sepakat menjadikan Kebudayaan Minangkabau yang Rahmatan Lil ‘Alamin sebagai visinya. Karena, kebudayaan itu merupakan cara manusia menjalani kehidupan dengan norma-norma yang telah diputuskan sebagai aturan yang telah disepakati untuk dipedomani. Budaya memiliki ruang lingkup seluruh sendi kehidupan, sosial, ekonomi, kemanusiaan dan sebagainya.

“Kebudayaan pada hakikatnya adalah pola hidup, mencakup seluruh sendi mulai dari sosial, ekonomi, kemanusiaan dan sebagainya. Semakin tinggi peradaban manusia maka semakin tinggi pula nilai budayanya,” ungkap budayawan yang juga wartawan senior Hasril Chaniago dalam konferensi pers tersebut.

Mengacu kepada visi tersebut, PKM mengusung misi sebagai wadah revitalisasi kebudayaan Minangkabau sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Kemudian, misi lainnya yang diusung adalah melakukan kajian kebudayaan secara profesional dan komperehensif, memajukan dan mempromosikan nilai kearifan lokal kebudayaan Minangkabau serta mengembangkan diplomasi kebudayaan dan membangun database kebudayaan Minangkabau.

PKM “Rumah Gadang” Kebudayaan Minangkabau

Menjalankan aspek tujuan organisasi, Hasril Chaniago memaparkan, PKM memfungsikan diri sebagai “Rumah Gadang”, sebagai forum tempat mendiskusikan berbagai pernak-pernik masalah aktual dalam usaha pemajuan kebudayaan Minangkabau dan implementasinya dalam kehidupan masyarakat.

Selain itu, PKM juga ditujukan untuk wadah menguatkan kelembagaan kebudayaan, pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) masyarakat hukum adat serta penguatan fungsi pemangku kebudayaan. Revitalisasi adat sebagai keseluruhan kebudayaan, pemberdayaan masyarakat hukum adat yang bersandi syara’ (agama) serta memajukan, merayakan dan memartabatkan kebudayaan Minangkabau yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

Kemudian juga, PKM akan memfungsikan diri sebagai mitra bagi pemerintah dan non pemerintah dalam penelitian dan pengkajian, serta publikasi dan sosialisasi pemikiran kebudayaan Minangkabau. Mempromosikan karya seni budaya serta menyelenggarakan diplomasi kebudayaan dalam memperkuat pengembangan karakter bangsa.

Konferensi pers Alek Malewakan PKM di Ladang Seni Nan Jombang, Senin (31/5/2021). (Febry)

“Malewakan” PKM, Merayakan dan Memartabatkan Kebudayaan Minangkabau

Memasuki periode kedua kepengurusan PKM tahun 2020-2025, para budayawan akan meresmikan atau “Malewakan” PKM sebagai pembuktian dari eksistensi. Helat (Alek) Malewakan itu dimaksudkan sebagai upaya merayakan dan memartabatkan kebudayaan Minangkabau yang lestari, secara terus menerus mengikuti dinamika kehidupan masyarakat.

Menurut panitia pelaksana Alek Malewakan PKM Eko Yanche Edrie, mengingat situasi pandemi Covid-19, prosesi malewakan PKM tersebut akan digelar dengan penerapan protokol kesehatan di Ladang Seni Nan Jombang pada Rabu 2 Juni 2021 mendatang. Dalam Alek Malewakan PKM, sekaligus akan diluncurkan sebuah buku berjudul “Saudagar Emas Minangkabau”, sebuah buku inspiratif yang mengangkat kehidupan H. Arnis Saleh, seorang saudagar emas asal Sumatera Barat yang diharapkan akan menginspirasi usahawan muda Minangkabau untuk terus menggali potensi diri sebagai modal menggapai kesuksesan.

Hasril Chaniago, penulis buku tersebut mengungkapkan, masyarakat Minangkabau dan perdagangan emas tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, ilmu pengecoran logam sudah dikuasai masayarakat Minangkabau sejak lama. Bahkan, pengolahan emas di Sumatera Barat sudah digali sejak dua ribu tahun lalu. Hal itu bisa dilihat dari berbagai bukti sejarah yang telah ditemukan tentang keterampilan masyarakat dalam mengolah emas dan logam sejak zaman dulu.

“Keterampilan mengolah logam sudah menjadi tradisi masyarakat Sumatera Barat sejak zaman dulu dan ini merupakan bagian dari kebudayaan. Perdagangan emas juga tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat sejak lama,” ungkitnya.

Alek Malewakan PKM itu akan dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi. Akan ada berbagai penampilan dalam alek yang juga akan ditayangkan secara virtual, siaran langsung siaran televisi dan live streaming di kanal youtube tersebut. Salah seorang pendiri, Irman Gusman rencananya akan menyampaikan orasi kebudayaan serta beberapa orang penyair akan berpuisi. (Febry D Chaniago)

Berita Terkait

Leave a Reply