

PADANG – Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit menerima rombongan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Sumbar untuk berdiskusi di ruang rapat Wagub Kantor Gubernur, Senin (9/4). Pada kesempatan itu dibicarakan terkait isu-isu keagamaan serta wisata halal di Sumbar.
Dikatakan Wagub, semua elemen masyarakat Sumatera Barat bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas daerah. Karena itu, apapun persoalan yang timbul di tengah masyarakat harus dilihat dan dipikirkan secara jernih. Dikatakan Wagub, pihaknya telah mencatat semoga persoalan yang disampaikan oleh Kesbang dan Kabinda Sumbar. Semuanya akan dibicarakan dengan pihak -pihak terkait.
Jika ada investasi yang menguntungkan, maka akan diterima karena itu untuk peningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, jika investasinya merusak atau merugikan masyarakat, maka akan ditolak.
“Akan tetapi, untuk mengetahui itu tentu kita perlu dialogkan dengan baik, sehingga salah penafsiran dapat diselesaikan dengan baik,” ujar Nasrul Abit saat menerima rombongan GNPF MUI Sumbar, di antaranya Jet Fatollah dan Irfianda Abidin.
Sementara, terkait kontroversi pemakaian cadar di lingkungan peguruan tinggi, itu bukan menjadi kewenangan Pemprov. Persoalan itu menjadi kewenangan pihak kampus dan Kementerian Agama.
Wagub juga memaparkan tentang pariwisata Sumbar. Dikatakan Wagub, pembangunan wisata internasional biarlah di Mentawai. Karena, kecendrungannya tidak cocok dengan budaya Minang yang berfilosofikan ABS-SBK. Namun, untuk wisata di daratan akan didorong wisata halal, yang dimulai dengan sertifikasi makanan halal.

“Itu akan kita mulai dengan segala makanan yang ada masuk di kantor gubernur sudah terdaftar dalam sertifikasi halal. Kemudian, di setiap lokasi wisata ada mushalla, wc yang bersih serta sanitasi yang halal juga untuk kesenangan para wisatawan yang datang,” katanya.
Selain itu, Pemprov Sumbar saat ini sedang menyusun rumusan Perda Wisata Halal. Walau belum diakui oleh pemerintah pusat, akan dimulai saja. Karena, di negara-negara maju, seperti Amerika, Tionghoa, Thailand, dan Jepang, perkembangan wisata halal juga menjadi tren dan diminati banyak wisatawan.
“Mari kita dorong adanya Perda Wisata Halal di Sumatera Barat, sebagai bahagian dari budaya dan karakter masyarakat Minang yang Islami dan religi,” imbau Nasrul Abit. (rin)






