PADANG- Ratusan santri Pondok Pesantren Nurul Yaqin Alhidayah Padang, Sumatera Barat mendapatkan pelatihan dan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Pelatihan tersebut dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia bekerja sama dengan Unilever melalui program “Pesantren Sehat Lifebuoy” diisi dengan pelatihan dan edukasi kesehatan untuk memilih Duta Santri.
Ketua Tim Ponpes dan Mahad Ali Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat Yohanes Anwar, Senin (18/3/2024) menyampaikan apresiasi atas program kerja sama yang digagas Unilever melalui brand Lifebuoy tersebut. Menurutnya, pelatihan sangat berguna untuk meningkatkan penerapan PHBS di lingkungan pondok pesantren baik terhadap santri maupun para pendidik.
Ketua Yayasan Ponpes Nurul Yaqin Al Hidayah Padang Nurdin Tuanku Sultan mengharapkan kesinambungan dari program tersebut mengingat implementasinya sudah ditunggu sejak tahun 2018 saat didirikannya pesantren Nurul Yaqin Al Hidayah. “Ketika program Pesantren Sehat Lifebuoy ini terealisasi di tahun 2024, diharapkan dapat semakin meningkatkan minat dan kepercayaan yang lebih besar untuk masuk ke pesantren. Apalagi program ini melibatkan kerja sama dengan para dokter sehingga menimbulkan daya tarik besar untuk memasuki pesantren ini,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu Sekretaris Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Cabang Sumatera Barat Pudia M. Indika menegaskan, PHBS merupakan sebuah perilaku yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu untuk mencegah munculnya berbagai penyakit seperti diare, influenza dan sebagainya.
“Melalui perilaku PHBS dengan mencuci tangan pakai sabun (CTPS) sudah diterapkan, maka dapat mencegah penularan berbagai jenis penyakit terutama yang biasa berjangkit pada musim pancaroba. Selain itu juga penting pola makan teratur dan makanan sehat berimbang serta berolahraga dan beristirahat yang cukup,” tuturnya.
Salah satu langkah utama dari PHBS yang penting untuk diimplementasikan di pesantren adalah gerakan CTPS di lima momen penting, yakni saat sebelum makan, setelah dari toilet, setelah bermain, setelah batuk atau bersin, dan setelah bepergian. Jika dibiasakan, akan mampu melindungi para santri dari berbagai penyebaran penyakit.
Bahkan menurut teori Swiss Cheese Model for Infectious Disease, kebiasaan ini menjadi langkah pertama untuk melindungi diri dari ancaman penyakit infeksi, setelah vaksin. Sementara, menilik pada data Riskesdas 2018, di Provinsi Sumatera Barat, untuk usia di atas 10 tahun yang mempunyai kebiasaan CTPS baru mencapai 37,92 persen, sehingga kebiasaan CTPS ini penting untuk disebarluaskan ke seluruh masyarakat.
Terpisah, Head of Skin Cleansing Unilever Indonesia, Erfan Hidayat menjelaskan, peran Lifebuoy untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan di area pesantren. Salah satunya adalah dengan mencetak Duta Santri sebagai peer educator dari program peer-to-peer learning.
Dia mengungkapkan, sejak tahun 2019 program Pesantren Sehat Lifebuoy telah menjangkau lebih dari 2.000 pesantren dan memberikan manfaat bagi lebih dari 900.000 santri dan santri putri di Indonesia. Tahun ini program Pesantren Sehat Lifebuoy hadir di Kota Padang dengan tujuan memberikan dampak yang lebih luas melalui sejumlah rangkaian kegiatan mulai dari peer-to-peer learning, training for trainers kepada santri dan santri putri, ustadz, dan ustadzah), edukasi CTPS dengan baik dan benar, hingga pemeriksaan kesehatan.
“Kami berharap dengan kolaborasi yang dilakukan di Pesantren di berbagai kota di Indonesia kami dapat menjangkau penambahan 1 juta santri dan santri putri di lebih dari 1.500 pesantren,” papar Erfan.
Interaksi intens antarmasyarakat pesantren menjadikan pesantren unit pendidikan yang berpotensi efektif dalam membiasakan CTPS di lima momen penting melalui metode peer-to-peer learning, dimana mereka saling mencontohkan dan meniru berbagai perilaku positif. Menurut studi dari Hungarian Academy of Sciences, peer-to-peer learning atau program edukasi melalui teman sebaya merupakan salah satu cara edukasi yang paling efektif dalam pengajaran CTPS di kalangan anak-anak.
Studi ini menemukan bahwa program edukasi melalui teman sebaya dapat meningkatkan pengetahuan teoritis tentang CTPS dan cara mempraktekkan CTPS yang benar hampir 2 kali lebih baik dari sebelumnya, dan dapat bertahan bahkan 4 bulan setelah program berakhir.
Program Pesantren Lifebuoy dibagi menjadi dua tahap, pertama pemilihan Duta Santri oleh pihak Pesantren sebagai peer educator yang akan mendapatkan pelatihan tentang PHBS, terutama CTPS, oleh dokter dari PDUI. Hal ini menjadi penting karena salah satu faktor kesuksesan peer-to-peer learning adalah kompetensi dan kapabilitas dari peer educator. Melalui pelatihan ini, Duta Santri akan memahami pentingnya CTPS dan bagaimana cara melakukan CTPS dengan baik dan benar.
Tahap kedua, Duta Santri akan kembali ke pesantren untuk dapat memulai melakukan Gerakan 21 Hari Pembiasaan CTPS bersama santri. Hal itu dilakukan karena menurut teori peer-to-peer learning, edukasi melalui peer educator yang kompeten terbukti lebih efektif dibandingkan dengan edukasi guru-siswa pada umumnya. Selain peer-to-peer learning, Lifebuoy memberikan bantuan terhadap pesantren berupa dana pendidikan, alat penunjang pendidikan, dan pemeriksaan kesehatan tanpa biaya.
Miftah Riska yang menjadi Duta Santri Ponpes Nurul Yaqin Al Hidayah mengemukakan harapannya, melalu program tersebut seluruh santri dan santri putri dapat mengubah kebiasaan dengan menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat. “Dengan menjadi Duta Santri saya berharap masyarakat percaya bahwa pesantren menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat,” ujarnya. */F






