AGAM – Peningkatan produksi jagung di wilayah Kabupaten Agam lebih dimungkinkan dengan cara meningkatkan produktivitas ketimbang meningkatkan luas lahan. Karena, lahan yang tersedia tidak memungkinkan untuk menanam jagung dalam skala besar.
Saat ini, menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (Dipetahornak) Kabupaten Agam, Afdhal, luas tanam jagung di wilayah Agam sekitar 11.563 hektare dengan luas panen 10.125 ha. Produktivitas berkisar antara 7,65 sampai 12 ton per hektare.
“Produktivitas bisa dilakukan dengan upaya pemakaian benih unggul dan pemupukan serta pemberantasan hama,” kata Afdhal kepada padangmedia.com, Senin (26/9) di Lubuk Basung.
Dikatakan, penghasil jagung utama di Kabupaten Agam adalah Kecamatan Ampek Nagari. Tahun ini di kecamatan itu terdapat luas tanam 6.004 hektare dengan luas panen 5,062 ha. Posisi kedua ditempati Kecamatan Lubuk Basung dengan luas tanam 2.616 ha dan luas panen 2.493 ha.
Kecamatan Tilatang Kamang menempati posisi tiga dengan luas tanam 612 ha dan luas panen 572 ha. Palembayan, sebagai kawasan percontohan hanya berada pada posisi 4 dengan luas tanam 484 ha dan luas panen 345 ha.
Kabid Tanaman Pangan Dipetahornak Agam, Jafrizal menambahkan, kondisi saat ini masih banyak sawah produktif dijadikan kebun jagung. Menurutnya, kebijakan seperti itu sebenarnya kurang bagus karena bisa mengurangi produksi pangan utama, yaitu padi. Sebaiknya, sawah produktif tidak dijadikan kebun jagung, karena sangat tidak dianjurkan. Namun, bila masih menjadikannya sebagai kebun jagung, hendaklah bergantian dengan tanaman padi.
“Menanami sawah produktif dengan tanaman jagung, bisa merusak tanah. Jagung termasuk tanaman yang rakus, sehingga bila terus-menerus ditanami pada satu hamparan sawah akan menjadikan sawah tersebut kritis,” tutupnya. (fajar)







