Kredit Modal Kerja Tinggi, OJK Yakin Ekonomi Sumbar Cepat Pulih
  • Home
  • Berita
  • Kredit Modal Kerja Tinggi, OJK Yakin Ekonomi Sumbar Cepat Pulih

Kredit Modal Kerja Tinggi, OJK Yakin Ekonomi Sumbar Cepat Pulih

Image
Kepala Kantor Perwakilan OJK Provinsi Sumbar, Yusri. (Febry)

PADANG- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini perekonomian Sumatera Barat pascapandemi akan cepat pulih. Keyakinan itu didasari tingginya permintaan kredit modal kerja ke lembaga perbankan.

Kepala Perwakilan OJK Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Yusri, memaparkan kinerja industri jasa keuangan kepada wartawan, Selasa (19/10/2021) mengungkapkan, kinerja industri jasa keuangan (IJK) di Sumbar sampai dengan posisi Agustus tahun 2021 tumbuh positif seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Yusri memaparkan, aset perbankan Sumbar tumbuh 6,14 persen year on year (yoy), sedangkan Kredit perbankan tumbuh sebesar 7,96 persen (yoy).

“Dari sisi kredit perbankan, 14,95 persen di antaranya merupakan kredit modal kerja. Artinya, sektor usaha di Sumbar sudah mulai menggeliat pascapandemi dan itu menjadi sebuah harapan perekonomian akan cepat pulih,” sebut Yusri.

Kemudian, lanjutnya, dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 5,07 persen (yoy). Kinerja perbankan tersebut diperkuat dengan profil risiko yang masih terjaga pada level terkendali dengan Non Performing Loans (NPL) gross tercatat sebesar 2,21 persen.

Yusri menambahkan, dari sisi perbankan syariah, perbankan syariah Sumatera Barat juga menunjukan kinerja yang menggembirakan. Aset dan pembiayaan perbankan syariah tercatat tumbuh masing-masing sebesar 20,21 persen (yoy) dan 12,73 persen (yoy). Kemudian DPK perbankan syariah tumbuh 20,04 persen (yoy) dan Rasio Non Performing Finance (NPF) sebesar 3,48 persen.

Pertumbuhan positif juga ditunjukkan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah. Posisi Agustus tahun 2021, kredit tumbuh sebesar 2,12 persen (yoy). Kemudian pihak DPK tumbuh sebesar 7,41 persen dengan Rasio Non Performing Loans (NPL) sebesar 7,68 persen.

Fungsi intermediasi BPR dan BPRS cukup baik. Terlihat dari Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 93,47 persen, rasio permodalan (CAR) masih cukup baik 29,48 persen.

Lebih jauh menurut Yusri, kebijakan restrukturisasi kredit/ pembiayaan bagi debitur yang terdampak penyebaran Covid-19 dinilai telah memberikan dampak positif bagi perkembangan industri jasa keuangan di Sumbar dan dan masyarakat pelaku usaha yang terdampak.

Sampai dengan posisi Agustus 2021, industri jasa Keuangan di Sumbar telah memberikan restrukturisasi kredit/ pembiayaan kepada 102.394 Debitur dengan outstanding sebesar Rp7,3 Triliun. Selain itu, OJK juga mendorong perbankan berperan aktif dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Peran aktif tersebut antara lain melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun memanfaatkan stimulus yang diberikan oleh pemerintah berupa subsidi bunga. Untuk penyaluran KUR, sampai Agustus 2021, outstanding KUR yang telah disalurkan perbankan Sumatera Barat mencapai Rp 4,7 Triliun kepada 122.024 debitur.

Yusri juga memaparkan kinerja IJK nonbank, khususnya perusahaan pembiayaan. Menurutnya, piutang pembiayaan pada Agustus 2021 mengalami pertumbuhan negatif 10,21 persen (yoy). Namun Non Performing Loans (NPL) mengalami perbaikan menjadi 4,32 persen dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 5,05 persen.

Sedangkan dari Industri Pasar Modal, jumlah Single Investor Identification (SID) terus mengalami peningkatan. Pada posisi Agustus 2021, SID didominasi oleh investor reksa dana yang mencapai 78.602 Investor dan kemudian disusul oleh investor saham sebanyak 41.234 investor. Investor Surat Berharga Negara (SBN) baru tercatat sebanyak 3.765 investor. Investor Efek Beragun Aset (EBA) baru sebanyak 3 investor.

“Jumlah SID investor saham tumbuh sebesar 110,38 persen dengan transaksi sebesar Rp1,97 triliun, tumbuh sebesar 160,28 persen (yoy),” katanya. (Febry)

Berita Terkait

Leave a Reply