Kredit Bermasalah Usaha Menengah di Sumbar Parah
  • Home
  • Berita
  • Kredit Bermasalah Usaha Menengah di Sumbar Parah

Kredit Bermasalah Usaha Menengah di Sumbar Parah

puji-atmoko-kepala-bi-sumbar

PADANG – Kredit bermasalah  usaha  menengah di Sumatera Barat pada tahun 2016 dinilai parah. Dibanding tahun 2014, hanya 7,2 persen ,  pada Juli 2016 mencapai 12,5 persen.  Hal yang sama juga terjadi  dalam jenis   usaha kecil yang bergerak  dari 4,9  persen  tahun 2014  hingga  7,1 persen  tahun ini.

“Sementara Kredit bermasalah  untuk usaha mikro menurut kami masih bagus.  Meski meningkat  dari 2,6 persen pada 2014 dan  3,1 di bulan Juli 2016, tapi masih dalam ambang  batas.  Sesuai dengan ketetapan dari Bank Indonesia tentang kredit bermasalah, jika  peningkatannya berada dibawah 5 persen dikatakan masih dalam batas kewajaran. Tapi kredit bermasalah usaha kecil dan menengah kita sudah melampaui batas. Jadi para pelaku usaha kita di Sumatera Barat sudah  tidak begitu tangguh lagi,” ungkap Puji Atmoko, Kepala Perwakilan Bank Indonesia  Sumatera Barat, dalam silaturrahmi bersama wartawan , Rabu (7/9). Puji didampingi Bimo, deputy Moneter dan Stabilitas Keuangan, Aliandro Deputy Pengelolaan Uang rupiah dan Sistem Pembayaran serta Farisan  salah seorang Asisten Manager.Disisi lain, menurut Puji, pertumbuhan kredit  Usaha  Mikro Kecil Menengah (UMKM)  diSumatera Barat  secara keseluruhan mengalami penurunan.  Memang,  di Sumbar kredit yang mayoritas itu adalah  dari UMKM.   Pertumbuhan kredit usaha  mikro   turun dari 42 persen  pada tahun 2014,  menjadi 24,4 persen Juli 2016.  Pertumbuhan  kredit  usaha menengah juga turun dari 17,8 persen menjadi  minus 18,2 persen (turun). Hanya  pada kredit usaha  kecil yang mengalami kenaikan dari  3,1 persen  menjadi 12,8 persen. “ini sudah parah sekali. Jadi perlu pembenahan” tegasnya

Selain kredit UMKM,  tambah Puji, pada kredit bank umum hampir berlaku hal yang sama dimana terdapat kecendrungan turun.  Apakah karena dunia usaha di Sumatera Barat yang belum menggeliat, Puji Atmoko  tidak dapat memastikannya. Karena banyak  faktor lain yang menjadi  pertimbangan.  Dari angka pertumbuhan kredit   di bank umum hanya kredit investasi tercatat meningkat dari 8,1 persen  tahun 2014 menjadi  21,5 persen di 2016.

Menariknya,  imbuhnya,   NPL  (kredit bermaslah)  di bank umum  juga terjadi peningkatan dari tahun ke tahun.  Tergolong dalam kredit bank umum  yakni kredit modal kerja, kredit  investasi dan konsumsi. “Rata-rata  secara umum kredit bermasalah  di bank umum juga meningkat dari 2,9 persen menjadi 3,8 persen.  Jika dilihat dari data-data  ini, bisa kami katakan, bahwa  perlambatan pertumbuhan kredit di bank umum ataupun UMKM  juga diikuti dengan penurunan kualitas  kredit,” tukasnya.

Kegiatan  media silaturrahmi Bank Indonesia ini dihadiri oleh  pemimpin redaksi dan wartawan berbagai media yang bertugas di Padang. Topik yang disampaikan adalah Kebijakan Moneter Terkini Bank Indonesia serta Perkembangan Terkini Perekonomian dan Perbankan di Sumatera Barat. (nit)

Berita Terkait

Leave a Reply