
BOGOR – Pelestarian kota pusaka bukan sebagai pembekuan kehidupan dan budaya, melainkan upaya memahami dan menyerap kearifan, nilai, dan semangat masa lalu untuk dikembangkan sebagai bekal ke masa depan.
Hal ini diungkapkan Pegiat dan pakar konservasi pusaka Laretna T Adishakti pada Temu Pusaka Indonesia dibalaikota Bogor, Sabtu (10/10). Tokoh Pilihan Tempo 2007 kategori arsitek dan seniman atas inisiatif membangun kembali Kotagede pascagempa 2006 ini menyatakan penataan kota pusaka merupakan upaya untuk terus-menerus mengintegrasikan dan mengorientasikan pusaka dalam pembangunan kota. Pelestariannya diikuti dengan pemanfaatan pusaka yang sesuai dengan kaidah pelestarian.
“Pemanfaatan pusaka harus dapat membawa kesejahteraan masyarakat dan peningkatan kehidupan yang berkualitas. Penguatan fisik, ekonomi, dan sosial budaya harus berjalan selaras” sebut perempuan yang akrab disapa Mbak Sita itu .
Penataan dan pelestarian kota pusaka merupakan upaya yang utuh dan komprehensif untuk pengelolaan kota pusaka agar masyarakat mencintai pusaka dan mengembangkan kehidupan budaya dan ekonomi yang semarak berbasis pada kearifan budaya lokal dan kaidah pelestarian kota pusaka Kota pusaka, jelasnya mengembangkan pusaka sebagai sumberdaya yang dilestarikan secara dinamis, sehingga dapat dikembangkan dan dimanfaatkan serta dipasarkan untuk kesejahteraan masyarakat.
“Strategi kerja sama antara pemerintah dan swasta serta masyarakat akan memberikan sinergi pengelolaan dan pemanfaatan yang optimal,” sebut dosen Universitas Gajah Mada itu.
Karena menggarap peluang kota pusaka adalah pembangkit ekonomi kreatif perlu digalakkan. Selama ini cukup banyak ekonomi kreatif dikembangkan, namun belum terkait dengan penataan kota beserta infrastrukturnya. Pengembangan ”Public-private Partnership” atau ”Business to Bussiness” untuk kota pusaka menjadi wadah peningkatan aksi kreatif masyarakat.
Hal yang sama diungkapkan mantan walikota Sawahlunto Amran Nur, pengembagan kawasan kota pusaka kalau dikemas dengan baik akan mengairahkan ekonomi kreatif dan menguatkan perekonomian kawas tersebut.
Mantan Ketua Jaringan Kota Pusaka Indonesia itu menambahkan di Kota Sawahlunto setelah dilakukan pengembangan kawasan kota tua dengan dilengkapi museum serta objek wisata kota tua seperti Loebang Mbah Soero, Museum kereta api dan Goedang Ransoem sangat memicu roda perekonomian kota.
“Industri pariwisata berkembang pesat ditopang kerajinan tradisional, usaha kuliner dan menggairahkan ojek wisata bermain didaerah lainnya,” sebutnya.
Kalau ini terus dilakukan kreatifitas serta inovasi kepala daerah yang berkesinambungan akan dapat menyeimbangkan pengembangan sarana objek wisata kunjungan permainan dan kawasan kota tua dengan budaya serta pusaka di Sawahlunto. (tumpak)






