PADANG- Melimpahnya komoditas bahan pangan mendongkrak perekonomian di Sumatera Barat pada September 2015. Setelah sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,40 persen (month to moth/ mtm) pada Agustus, Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Barat pada September ini mengalami deflasi sebesar -0,51 persen (mtm).
Kepala Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat selaku Wakil Ketua Tim Kordinasi/ Ahli Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat Puji Atmoko, Rabu (7/10) menjelaskan, secara tahunan inflasi Sumbar tercatat mereda dari 7,23 persen (year on year/ yoy) pada Agustus 2015 menjadi 6,25 persen (yoy) pada September 2015. Berdasarkan kota sampel inflasinya, deflasi Kota Bukittinggi sebesar -0,73 persen (mtm) lebih rendah dibandingkan Kota Padang sebesar -0,49 persen (mtm).
” Angka deflasi Sumbar bulan September tersebut jauh berada dibawah deflasi nasional sebesar -0,05 persen (mtm),” katanya.
Menurut Puji, kelompok harga bahan pangan bergejolak (volatile food) pada bulan September 2015 mengalami deflasi yang cukup signifikan sebesar -2,73 persen (mtm). Pergerakan harga dari kelompok ini terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas cabai merah karena masuknya masa panen di beberapa daerah penghasil seperti Jawa dan Sumatera Utara. Daging ayam ras menunjukkan penurunan harga seiring dengan meningkatnya pasokan dari peternak serta berkurangnya permintaan ayam ras di tengah perayaan Idul Adha.
” Selain kelompok volatile food, penurunan tarif angkutan udara, harga Elpiji 12 kg, dan beberapa jenis BBM juga menjadi faktor penyebab terjadinya deflasi di Sumbar dari kelompok harga komoditas yang diatur pemerintah (administered price,” kata Puji.
Kendati inflasi hingga bulan September 2015 masih terkendali, tekanan inflasi pada beberapa bulan ke depan baik dari eksternal maupun domestik tetap perlu diwaspadai. Risiko dari sisi eksternal terutama bersumber dari akselerasi transmisi pelemahan rupiah terhadap kenaikan harga-harga barang industri dan potensi penyesuaian harga BBM yang mengacu pada perkembangan kurs dalam 6 bulan terakhir.
Sementara itu, risiko inflasi dari sisi domestik masih dibayangi oleh dampak el nino yang intensitasnya semakin meningkat di beberapa daerah sentra produksi di Jawa yang dapat mengancam ketersediaan pasokan bahan pangan strategis seperti cabai merah dan bawang merah di Sumatera Barat yang masih cukup banyak dipasok kebutuhannya dari Pulau Jawa.
TPID Akan Gelar HLM
TPID Provinsi Sumatera Barat terus berupaya memitigasi risiko domestik yang berpotensi menyebabkan terjadinya kenaikan harga pada bulan berikutnya. Kondisi dan antisipasi tersebut mendorong TPID Provinsi Sumatera Barat bermaksud menggelar rapat koordinasi tingkat tinggi atau high level meeting (HLM) TPID bersama Pimpinan Daerah.
Puji menjelaskan, agenda yang dibahas dalam rapat tersebut adalah langkah-langkah antisipasi yang perlu dilakukan oleh seluruh anggota TPID apabila terjadi kelangkaan pasokan, terutama komoditas cabai merah seperti yang terjadi pada tahun 2014 lalu. Selain itu, koordinasi dengan pihak distributor maupun pedagang juga perlu dilakukan demi menjaga kestabilan harga dan pasokan sejumlah komoditas pangan strategis. (feb)






