Ko Chin, 30 Tahun Lebih Geluti Usaha Kulit Ular
  • Home
  • Berita
  • Ko Chin, 30 Tahun Lebih Geluti Usaha Kulit Ular

Ko Chin, 30 Tahun Lebih Geluti Usaha Kulit Ular

Ko Chin dengan usaha kulit ularnya. (foto: baim)

PADANG – Mahalnya harga suatu produk fashion seperti jaket, celana, rompi, sabuk, dompet, tas dan lain-lain yang menggunakan bahan kulit hewan memang sudah tidak diragukan lagi. Hal itu dikarenakan proses yang rumit dan bahan baku yang langka. 

Di Padang, ada salah seorang warga keturunan Tionghoa yang tekun menggeluti usaha kulit hewan, terutama ular dan biawak. Ko Chin (54), demikian ia disapa, sudah menggeluti usaha tersebut sejak tahun 1980-an hingga saat ini.

Warga pasar Tanah Kongsi, Kelurahan Pondok, Kecamatan Padang Selatan tersebut kepada padangmedia.com, Jum’at (24/7) mengaku masih bertahan dengan usahanya tersebut. Namun, meskipun produk akhir dari olahan kulit hewan tersebut harganya cukup mahal, tapi ternyata ia tak memperoleh banyak keuntungan.

Pasalnya, untuk melakukan penjualan kembali ke pabrik, harganya tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkannya untuk membeli seekor ular atau biawak ukuran besar. Apalagi, untuk menjual ke pabrik ia harus menjual dalam jumlah banyak, minimal 100 lembar. Itupun tidak boleh ada yang lecet sedikitpun.

Padahal, untuk saat ini, satu ekor ular saja dalam satu bulan susah didapat  dari orang-orang yang biasa mengantar ke tempatnya. Karena itu, ia tidak bisa begitu mengandalkan lagi usaha kulit ular tersebut untuk menghidupi keluarga.

Meski demikian, sambil tertawa kecil, Ko Chin berkata, tak masalah kalau kulit ular sudah susah dijual. Ia masih punya empedu ular yang laku dijual untuk obat.

“Masih ada empedu ular ini yang bisa dijual. Itupun lumayan lah harganya. Empedu ular ini banyak dicari orang untuk obat demam tinggi. Sudah banyak terbukti. Bahkan, ada toko obat yang pesan empedu ular ini sama gua,” ungkap Ko Chin. (baim)

Berita Terkait

Leave a Reply