Kasus Covid-19 di Sumatera Cenderung Meningkat, Inovasi Pak Ali Bisa Jadi Inspirasi
  • Home
  • Berita
  • Kasus Covid-19 di Sumatera Cenderung Meningkat, Inovasi Pak Ali Bisa Jadi Inspirasi

Kasus Covid-19 di Sumatera Cenderung Meningkat, Inovasi Pak Ali Bisa Jadi Inspirasi

Image
Tangkapan layar zoom meeting Satgas Covid-19, Selasa (11/5/2021). (Febry)
Tangkapan layar paparan Dewi Nur Aisyah pada zoom meeting Satgas Covid-19, Selasa (11/5/2021). (Febry)

JAKARTA- Sejak awal 2021, ada kecenderungan peningkatan kasus Covid-19 di Pulau Sumatera. Sementara di Pulau Jawa cenderung melandai dan menurun. Bahkan, dua bulan terakhir, beberapa provinsi di Sumatera melejit ke posisi top teen peningkatan kasus, termasuk Sumatera Barat.

Demikian dipaparkan Ketua Bidang Data dan TI Satuan Tugas Covid-19 Dewi Nur Aisyah dalam zoom meeting, Selasa (11/5/2021) malam.

Pertemuan virtual tersebut bertopik Strategi “Micro Lockdown” Tingkat RT Menghadapi Potensi Lonjakan Kasus Covid-19 PascaIdul Fitri. Menghadirkan antara lain Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo, penjabat Gubernur Jambi Hari Nur Cahya Murni, Kapolda Jambi, Danrem Garuda Putih dan Wali Kota Jambi.

Dewi Nur Aisyah memaparkan seputar lonjakan kasus Pulau Sumatera serta landainya kasus Pulau Jawa. Menurut Dewi, kecenderungan peningkatan kasus Covid-19 di Pulau Sumatera terlihat dari bulan Januari 2021. Namun hingga Maret 2021, belum ada provinsi di Sumatera masuk dalam jajaran top ten penambahan kasus secara nasional.

Dewi menegaskan, pada Pebruari dan Maret tidak ada provinsi di Sumatera yang masuk dalam 10 besar penyumbang kasus tertinggi nasional. Pada April masuk dua provinsi yaitu Riau dan Sumatera Barat.

“Pada April, secara mengejutkan Provinsi Riau masuk ke posisi kelima serta Sumatera Barat di posisi kedelapan dalam jajaran top ten provinsi penyumbang kasus terbanyak,” paparnya.

Padahal, sebelumnya, pada Pebruari, Riau masih di posisi 16 dan Maret naik ke posisi 12 dari 34 provinsi. Sumbar pada posisi ke 18 pada Pebruari naik ke posisi 16 pada Maret 2021.

Kondisi peningkatan kasus positif di Pulau Sumatera terus berlanjut. Hingga pada bulan Mei ini, bertambah menjadi lima provinsi. Riau berada di posisi ketiga setelah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Kemudian Sumatera Barat pada posisi kelima setelah Jawa Tengah. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melonjak ke posisi delapan, Kepulauan Riau di posisi kesembilan serta Sumatera Selatan di posisi kesepuluh.

Sementara itu, provinsi lainnya di Pulau Sumatera juga terus naik peringkat pada posisi daerah terbesar penyumbang kasus Covid-19 secara nasional pada dua bulan terakhir.

Dewi juga memaparkan, kontribusi peningkatan kasus di provinsi Pulau Sumatera juga meningkat sejak 1,5 bulan terakhir. Sementara provinsi di Pulau Jawa justru menurun.

Menurutnya, pada Januari hingga April, kontribusi Pulau Jawa terhadap peningkatan kasus Covid-19 berada di level 60 sampai 70 persen. Namun pada Mei 2021, pulau Jawa menurun sekitar 11,06 persen.

Sebaliknya, daerah di Pulau Sumatera yang sebelumnya berkontribusi di bawah 20 persen pada level nasional meningkat signifikan pada 1,5 bulan terakhir dengan kontribusi mencapai 27,22 persen di bulan Mei dibanding Januari 2021.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Satgas Covid-19 nasional dalam pembahasan pertemuan virtual tersebut. Provinsi Jambi diharapkan menjadi inspirasi bagi provinsi lain dalam penanganan Covid-19 dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Inspirasi Isolasi Ala Pak Ali

Pak Ali, Ketua RT 4 Kelurahan Payo Selincah, Jambi melalui inovasi penanganan Covid-19 menjadi salah seorang yang dihadirkan dalam pertemuan virtual itu. Pak Ali menceritakan, berawal dari kegiatan tradisi punggahan menyambut bulan puasa Ramadan, total 28 orang di lingkungannya positif terpapar Covid-19.

“Dari awalnya 1 orang, dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan positif, sekitar 18 orang warga berinisiatif melakukan uji swab antigen dan hasilnya 15 orang positif. Kemudian dilacak lagi ada tambahan 7 orang sehingga total 28 orang,” tutur Pak Ali.

Langkah berikutnya yang diambil, adalah dengan mengisolasi mandiri seluruh warganya yang terpapar Covid-19. Pertimbangannya, kalau dikarantina di rumah sakit akan membuat pasien stress sehingga menurunkan imun tubuh.

“Saya menjamin pelaksanaan isolasi mandiri berjalan baik. Warga ini “dikurung” di rumah masing-masing. Segala kebutuhan makanan dan asupan gizinya dikontrol dan dipastikan terpenuhi. Warga lain tidak boleh ada yang keluar lingkungan dan warga dari luar juga tidak boleh masuk. Setiap hari, warga, baik yang positif maupun yang tidak diajak olahraga. Tempatnya dipisah. Senam Covid, senam dangdut atau senam apalah namanya, yang penting berkeringat. Dilanjutkan berjemur. Bagi warga yang tidak berpuasa disediakan sarapan, yang berpuasa silakan dilanjut berpuasa,” bebernya panjang lebar.

Upaya penanganan tersebut berhasil. Ditambah lagi support dari seluruh pihak. Wali Kota dan jajaran, hingga gubernur. “Bahkan Kapolda setiap pagi telpon saya, menanyakan kondisi saya dan perkembangan kesehatan warga,” ujarnya lagi.

Akhirnya, hari ini, sebutnya, tersisa dua orang warganya yang masih positif dan menjalani isolasi mandiri. Namun Pak Ali menekankan kepada seluruh warganya tanpa kecuali untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Dia berpendapat, tidak ada pencegah Covid-19 yang paling mujarab selain dari disiplin 5 M. Yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan meningkatkan imun tubuh.

Menutup rapat koordinasi, Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo menekankan pentingnya melakukan edukasi secara terus menerus terkait protokol kesehatan. Peningkatan kasus Covid-19 selama musim libur lebaran harus diwaspadai.

“Kebijakan pemerintah melarang mudik pada lebaran tahun ini merupakan langkah yang dirasakan efektif agar Covid-19 tidak semakin menyebar. Jangan sampai perantau menjadi carrier bagi sanak keluarga di kampung ketika mudik,” tegasnya. (Febry)

Berita Terkait

Leave a Reply