
SAWAHLUNTO – Bahasa Tansi, bahasa yang berasal dari buruh tambang batubara di masa kolonial Belanda di Sawahlunto kini tertuang dalam helai baju kaos hasil kreatifitas Heri Surya. Kehadiran baju kaos tersebut ikut mempromosikan kota tua bersejarah Sawahlunto.
Pemilik distro baju kaos bahasa Tansi, Heri Surya menyatakan, beberapa disain telah didistribusikan ke beberapa pemesan dan toko-toko cenderamata serta loker di beberapa objek wisata yang ada di Kota Sawahlunto.
“Keunikan bahasa Tansi yang dituang dalam setiap kaos dapat dijadikan sebagai cenderamata dan sebagai identitas orang Sawahlunto atau yang pernah tinggal di kota itu,” jelas Heri kepada padangmedia.com di Sawahlunto, Minggu (16/10).
Beberapa tulisan bahasa Tansi yang dikutip, seperti “ Kemana aja ke ndak ketok-ketok” yang artinya kemana saja tak ada kelihatan, “Koati ke lah” berarti sesuka hati mu saja dan sebagainya.
Bahasa Tansi sangat khas di Kota Sawahlunto. Bahasa Tansi juga beragam dulunya, seperti Tansi Rante, Tansi Tanah Lapang, Tansi Baru, Tansi Duren, Tansi Sunge Duren, maupun Tansi Rimbo Singkalang serta Tansi Gunung.
Bahasa Tansi juga telah dituang dalam kamus buku Bahasa Tansi (BT) yang ditulis doktor linguistik Universitas Gajah Mada kelahiran Sawahlunto, Elsa Putri Ermisah Syafril.
Terkait masalah harga, meurut Heri, sangat sesuai dengan kualitas agar pembeli puas menggunakan. Saat ini, baju kaos hasil desain Heri tersebut telah dijual di toko-toko souvenir. Baju-baju itu juga sudah dijadikan sebagai oleh-oleh unik dari Sawahlunto.
Untuk menjaga keaslian merk agar tak ditiru, sampai saat ini baju dengan tulisan bahasa Tansi tersebut masih dalam tahap pengajuan hak paten merk ke Dirjen HAKI. (tumpak)






