PADANG – Harga barang pada kelompok yang diatur pemerintah (administered price) dan kelompok inti (core) menyumbang inflasi bulanan Sumatera Barat pada Juli 2017.
Wakil Ketua Tim Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat Puji Atmoko melalui siaran pers Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat menyebutkan, inflasi pada kelompok administered price pada Juli 2017 tercatat 2,25 persen (month to month/mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya (Juni, red) yang hanya sebesar 1,63 persen.
“Kenaikan ini disumbang oleh angkutan udara untuk rute dari Padang denga andil sebesar 0,51 persen (mtm) seiring tradisi “Pulang Basamo” yang dapat mencapai satu bulan sesudah lebaran sehingga berdampak kepada periode arus balik yang lebih lama,” terang Puji.
Kenaikan harga pada kelompok ini, menurutnya, sedikit tertahan dengan turunnya tarif angkutan antar kota yang memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen (mtm).
Dia melanjutkan, pada kelompok inti (core), terjadi kenaikan harga di Juli 2017 sebesar 0,67 persen (mtm) dari bulan sebelumnya inflasi 0,14 persen (mtm) pada Juni 2017. Kenaikan harga kelompok ini disumbang oleh kenaikan harga bimbingan belajar, Taman Kanak-Kanak, nasi dengan lauk yang memberi andil inflasi masing-masing sebesar 0,13 persen (mtm); 0,04 persen (mtm); 0,03 persen (mtm) serta sewa rumah, gulai, dan Sekolah Menengah Pertama dengan andil inflasi masing-masing 0,02 persen (mtm).
“Kenaikan harga kelompok ini sedikit tertahan dengan turunnya harga emas perhiasan dengan andil deflasi 0,01 persen (mtm),” tandasnya.
Inflasi bulanan Sumatera Barat pada Juli 2017 tercatat sebesar 0,48 persen (mtm) dan merupakan inflasi terendah secara bulanan pascalebaran di daerah ini sejak tujuh tahun terakhir. Secara keseluruhan, kelompok volatile food, administered price dan core memberi andil bulanan masing-masing sebesar -0,41 persen (mtm); 0,56 persen (mtm); dan 0,34 persen (mtm) terhadap inflasi bulanan Sumatera Barat 0,48 persen (mtm). (feb)






