Jengkol dan Bawang Putih Kembali Picu Inflasi di Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Jengkol dan Bawang Putih Kembali Picu Inflasi di Sumbar

Jengkol dan Bawang Putih Kembali Picu Inflasi di Sumbar

Jengkol (int)
Jengkol (int)

PADANG – Meskipun Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Sumatera Barat pada Mei 2017 mencatatkan deflasi sebesar 0,09 persen, namun sedikit tertahan dengan kenaikan harga komoditi jengkol dan bawang putih. Jengkol memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen sementara bawang putih menyumbang inflasi 0,02 persen.

Ketua I Tim Teknis Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat Bimo Epyanto menyebutkan, kelompok barang pangan bergejolak (volatile food) menyumbang deflasi 0,87 persen. Deflasi volatile food utamanya disumbang oleh turunnya harga bawang merah, cabai merah, beras dan daging ayam ras.

“Bawang merah menyumbang deflasi sebesar 0,11 persen, cabai merah 0,07 persen, beras 0,07 persen dan daging ayam ras menyumbang deflasi sebesar 0,02 persen,” kata Bimo melalui siaran pers kantor perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat, Jumat (2/6).

Menurutnya, turunnya harga komoditas tersebut sebagai dampak melimpahnya pasokan khususnya bawang merah, cabai merah dan beras seiring berlanjutnya masa panen di Sumatera Barat. Selain itu, kegiatan pasar murah yang dilakukan oleh Bulog Divisi Regional (Divre) Sumatera Barat sebelum Ramadhan turut membantu meredam gejolak harga di pasar.

“Penurunan harga kelompok volatile food sedikit tertahan dengan kenaikan harga jengkol dan bawang putih yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,06 persen(month to month/mtm) dan 0,02 persen (mtm),” tambahnya.

Sementara itu, pada kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price), terjadi inflasi di bulan Mei 2017 sebesar 0,67 persen (mtm) dengan laju yang lebih rendah dibandingkan inflasi April 1,25 persen (mtm).

Kenaikan harga pada kelompok ini disumbang oleh Tarif Tenaga Listrik (TTL) dengan andil 0,07 persen (mtm) seiring dengan pencabutan subsidi lanjutan golongan rumah tangga mampu berdaya 900 VA. Angkutan udara turut memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen (mtm) seiring banyaknya periode liburan di bulan Mei 2017.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas bensin yang memberi andil inflasi sebesar 0,01 persen (mtm) seiring dengan penyesuaian harga Bahan Bakar Khusus (BBK) yaitu Pertalite yang naik sejak 29 April 2017.

Pada kelompok inti (core), terjadi penurunan harga di Mei 2017 sebesar 0,08 persen (mtm) setelah mengalami inflasi di April 2017 sebesar 0,15 persen (mtm). Penurunan harga kelompok ini disumbang oleh penurunan tarif pulsa ponsel dan harga emas perhiasan yang memberi andil deflasi masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm).

Dia memaparkan, secara keseluruhan, kelompok bahan pangan bergejolak, kelompok barang yang diatur pemerintah dan kelompok inti memberi andil bulanan masing-masing sebesar -0,22 persen (mtm), 0,16 persen (mtm) dan -0,04 persen (mtm) terhadap deflasi bulanan Sumatera Barat 0,09 persen (mtm).

“Tekanan inflasi ke depan diprakirakan cukup tinggi. Sumber tekanan inflasi utama berasal dari kelompok barang yang diatur pemerintah, khususnya kenaikan tarif angkutan udara seiring dengan tingginya permintaan dengan rute dari/ke Padang menjelang lebaran,” lanjutnya.

Selain itu, permintaan terhadap bahan pangan juga diprakirakan semakin meningkat sebagai persiapan Hari Raya Idul Fitri. Sementara itu, prakiraan cuaca BMKG pada bulan Juni 2017 menunjukkan curah hujan pada level menengah di wilayah Sumatera Barat dan rendah di wilayah Jawa.

“Pada kelompok inti, pergerakan harga diprakirakan sedikit meningkat seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat,” tandasnya. (feb/*)

Berita Terkait

Leave a Reply