
Payakumbuh – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat Supardi membuka kegiatan Pra Festival Maek di Kota Payakumbuh, Minggu (14/7/2024). Kegiatan itu diisi dengan Diskusi Internasional Hasil Rise dan Foccuss Group Discussion (FGD) terkait peradaban Nagari Maek.
Dalam kesempatan itu Supardi memaparkan, peradaban Maek masih dalam tabir misteri yang belum terungkap. “Cerita peradaban Maek merupakan bukti dari eksistensi keberadaan Ranah Minang dan Sumatera Barat umumnya,” kata Supardi.
Dalam diskusi tersebut hadir pembicara dari mancanegara, antara lain dari Mesir, Jepang dan dari dalam negeri. Diskusi dan FGD berlangsung hingga tanggal 16 Juli 2024 di Balai Kota Payakumbuh.
Dia memaparkan, peradaban Maek mulai dilirik kembali tahun 2022 dengan hadirnya para ahli untuk melakukan penelitian terhadap berbagai benda yang ada di Nagari Maek. Para pakar mulai meneliti menhir dan fosil yang ditemukan. Meskipun hingga saat ini belum mendapatkan hasil yang memuaskan namun penelitian masih terus dilakukan sehingga bisa diketahui usia fosil dan menhir di nagari tersebut.
“Para pakar dari UGM dan peneliti internasional masih terus melakukan penelitian terhadap fosil yang ditemukan serta artefak ataupun benda-benda yang diperkirakan bisa mengungkap misteri peradaban Maek,” ujarnya.
Festival Maek menurut Supardi digagas melalui program pokok pokok pikirannya sebagai anggota dewan provinsi dari daerah pemilihan Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh.
Tujuan dari diadakannya festival tersebut adalah untuk menarik perhatian dunia tentnang keberadaan peradaban Maek sehingga memancing peneliti untuk memecahkan misteri tersebut. Selain itu, tentunya akan memberikan dampak kepada geliat perekonomian masyarakat.
“Peradaban Maek ini adalah sebuah potensi, kami mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Tujuannya agar membuka mata dunia terhadap situs ini, sekaligus menarik kunjungan wisata yang berdampak kepada perekonomian,” bebernya.
Dalam kesempatan itu Supardi juga mengungkapkan bahwa peneliti dari UGM telah melakukan penelitian sebuah fosil tengkorak pada sekitar tahun 1985. Selain itu Pusat Riset Badan Riset BRIN juga menemukan menhir yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-1 sampai 8 sebelum masehi.
“Saat ini kami masih menunggu hasil carbon dating fosil tengkorak yang ditemukan di Maek oleh sebuah labor di Australia, untuk mengetahui pasti berapa usia fosil tersebut,” terangnya.
Sekretaris Kota Payakumbuh Rida Ananda menyatakan menyambut baik dilaksanakannya Festival Maek yang ditujukan sebagai upaya mengungkap peradaban Maek sekaligus sebagai ajang promosi potensi wisata Maek sebagai destinasi wisata sejarah.
Kepala Bidang Budaya Minangkabau Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Asril menerangkan, kegiatan diskusi internasional hasil riset yang digelar tersebut merupakan rangkaian dari Festival Maek 2024. Festival sendiri akan digelar pada 17 sampai 20 Juli 2024 di Nagari Maek Kabupaten Limapuluh Kota. *






