
SEMARANG – Jelajah Pusaka Dieng, Kamis (20/9) mengawali rangkaian Temu Pusaka Indonesia (TPI) 2018 yang akan digelar di Semarang. Pada Jelajah Pusaka Dieng, peserta akan menelusuri pusaka di dataran tinggi dari pegunungan vulkanik aktif dengan ketinggian 2.000 mdpl di dua kabupaten, yakni Wonosobo dan Banjarnegara yang amat terkenal ini.
Dataran tinggi Dieng konon dulunya menjadi tempat para kesatria kerajaan menimba ilmu kesaktian. Konon katanya, banyak mahaguru yang tinggal di kawasan yang memiliki banyak candi peninggalan Hindu itu.
Ketua Panitia Penyelenggara Temu Pusaka Indonesia Agus Marsudi menyatakan jelajah pusaka Dieng akan mengawali kegiatan yang digelar atas kerjasama Badan Pelestari Pusaka Indonesia bersama dengan mitra Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Tengah, Oen’s Semarang Foundation, Monod, Tekodeko serta lembaga lainnya yang dilaksanakan pada 21-23 September mendatang.
“Dengan kegiatan kunjungan lapangan bersama untuk mengamati langsung pelaksanaan praktik-praktik pelestarian dan pertunjukan karya kriya seni untuk lebih mengenal kekayaan tradisi, kesenian, dan kreativitas baik lokal, nusantara maupun dinamika dalam pengaruh interaksi dunia,” jelas Agus, Rabu (12/9).
Ada empat bagian utama rangkaian kegiatan Temu Pusaka Indonesia, yakni Temu Mitra Pelestari Pusaka adalah ajang para mitra pelestari dari berbagai daerah baik individu pegiat pelestarian, organisasi komunitas maupun institusi pemerintah dan swasta. “Terkait pelestarian untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman tentang cerita sukses dan tantangan dalam pelaksanaan pelestarian selama ini,” sebutnya.
Kegiatan Temu Wicara Pelestari Pusaka dengan dialog antara para pemangku kebijakan terkait pelestarian baik di
tingkat nasional maupun daerah, serta para praktisi kegiatan pelestarian pusaka menuju penguatan kota pusaka dan desa pusaka untuk peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Temu anggota BPPI, yakni terkait update laporan kepengurusan BPPI terutama kegiatan yang telah dilaksanakan selama ini serta diskusi untuk merumuskan rencana program pelestarian pusaka ke depan, papar Agus.
Kegiatan Temu Pusaka Indonesia merupakan momen satu dekade gerakan komunitas untuk kota Pusaka Indonesia. Kota Semarang dipilih bersamaan dengan Festival Kota Lama di kota ini. Semarang sebagai tempat kegiatan dengan pertimbangan bahwa Semarang memiliki kekayaan pusaka alam, budaya, dan saujana yang luar biasa.
Letak geografis yang strategis dengan alam perbukitan dan pantai/laut memberikan kekayaan pusaka alam yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain. “Kekayaan budaya diwakili oleh kekayaan budaya lokal dan campuran dari Eropa (Kota Lama), Tiongkok (Pecinan), dan kampung tradisional yang diwakili oleh kehadiran bangunan dan budayanya. Terlebih penting, komitmen Kepala Daerah (Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang) yang tinggi untuk pelestarian aset pusaka tersebut dalam pengembangan pariwisata kota diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan pariwisata kota atau desa lainnya,” pungkasnya. (tumpak)





