
BUKITTINGGI – Bila pernah melewati Pasar Tumpah Padang Luar Bukittinggi Sumatera Barat, sudah dipastikan bakal menemui kemacetan dan kerumitan. Apalagi jadwalnya “hari pasar” di sini atau Sabtu Minggu. Sudah berbilang tahun kondisi ini tak pernah bisa diatasi dan terurai. Namun sejak 5 Juni lalu, kesemrawutan ini tak terlhat. Kendaraan bermotor tampak lancar-lancar saja.
Di dalam pasar , beberapa petugas dan unsur pemuda nagari Padang Luar memegang megaphone dan menyerukan agar amai-amai pedagang sayur tidak lagi menggelar dagangannya di pinggir jalan.
“Kami juga tidak boleh tawar menawar di pinggir jalan ini, harus masuk ke dalam pasar,” kata Ridwan (48) seorang pedagang sayur keliling yang membeli sayuran untuk dia bawa ke Riau.
Menurut dia, ini patut diacungi jempol, karena jalanan menjadi lebih lapang dan arus lalu-lintas jadi lancar tanpa ada kemacetan seperti yang biasa terjadi setiap Sabtu dan Minggu.
Menurut Ketua Revitalisasi Pasar Padangluar, Ir. Abdul Aziz tidak saja para pengemudi yang melewati Padangluar yang tidak nyaman dengan kemacetan menahun di situ, bahkan masyarakat nagari Padangluar sendiri juga jauh lebih tidak nyaman.
“Kami bahkan malu juga karena tiap yang melewati kampung kami selalu tidak nyaman, maka kami ambil inisiatif. Ini tidak bisa dibiarkan atau diserahkan kepada polisi saja,” kata Aziz.
Ia mengakui bahwa masyarakat Sumbar yang melewati pasar Nagari Padangluar, sudah pasti bersiap untuk terjebak kemacetan. Setidaknya, jalan sepanjang 2 km itu harus ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun karena operasional pasar Nagari Padangluar yang merupakan sentra perdagangan sayur terbesar di Sumatera Barat sangat ramai pada Sabtu dan Minggu.
“Kami ingin jalan itu menjadi lancar, habis kemacetannya. Kini Alhamdulillah meski masih ada oplet yang berhenti dan mobil pribadi yang parkir di bahu jalan, namun kendaraan yang lewat di depan pasar masih bisa melaju dengan lancar,” kata Aziz.
Rupanya operasi lancar di Padangluar itu sudah dirancang sejak awal tahun lalu. Aziz mengatakan bahwa Pemerintahan Nagari Padangluar membentuk apa yang dinamakan Tim Revitalisasi Pasar Padangluar. Tim itu diketuai oleh Abdul Aziz dan di dalamnya juga ada akademisi Unand, Dr. Alfan Miko. Alfan Miko diserahi tugas untuk menyusun master plan Nagari Padangluar.
“Tim ini bekerja secara paralel dengan pengurus pasar yang dipimpin Ade Glowdear. Master plan disusun, sementara pembenahan operasional pasar nagari juga dilakukan lebih teknis dan detail yang bertujuan membersihkan kemacetan menahun di jalan lintas itu,” kata Aziz.
Soal master plan nagari, hal itu sudah dipresentasikan kepada Bupati Agam pada pertengahan Februari lalu. Masterlan itu juga menyinggung soal bekas stasiun kereta api PT KAI di Padangluar. “Jadi akan dilakukan kerjasama antara pengelola pasar nagari dengan PT KAI,” ujar Aziz.
Perihal langkah teknis menertibkan pedagang sayur di badan jalan Padangluar, Walinagari Padangluar, Edison, sebagaimana dikutip oleh Abdul Aziz, mengatakan bahwa pemerintah nagari sangat serius untuk membuat tertib dan lancar jalanan di depan pasar itu.
“Karena sangat resah dengan kemacetan yang semakin tidak terkendali, sehari setelah rapat lengkap, Pengurus Pasar Nagari bersama anak nagari langsung mengambil langkah-langkah penertiban. Ade Glowdear yang juga Kepala Pasar langsung turun kelapangan bersama jajarannya beserta Anak Nagari Padanglua mulai bereaksi.
Bemodalkan Toa tangan, mereka turun langsung untuk merelokasi pasar tumpah yang didominasi oleh amai-amai penjual sayur. Menertibkan angkutan umum dan mobil pribadi yang parkir sembarangan,” kata Aziz.
Kerja keras selama seminggu ternyata membuahkan hasil. Jalanan menjadi mulai lancar walaupun kadang masih tersendat disaat ada pedagang sayur yang melintas membawa barang dagangannya. Hari Sabtu dan Minggu yang biasanya sangat macet, kini sudah bisa dilewati dengan nyaman. Dulu butuh waktu 30-45 menit untuk melintasi Padangluar, saat ini hanya butuh waktu 5-10 menit saja.
Kerja keras anak nagari sudah membuahkan hasil, kemacetan yang sudah berlangsung puluhan tahun selesai ditangan anak nagari.
“Tentunya masyarakat Padanglua dan semua pengguna jalan raya sangat berharap, agar Pemerintah Kabupaten Agam dapat lebih berperan aktif dalam mengawasi dan mengendalikan ramainya lalu lintas agar tidak lagi menimbulkan kemacetan. Begitu juga dengan polisi serta Satpol PP dan Dinas Perhubungan,” kata Aziz. (*/nit)






