
SAWAHLUNTO – Sejarah orang rantai atau tahanan di saat penjajahan kolonial Belanda yang dijadikan pekerja paksa dari pulau Jawa di tambang Sawahlunto menjadi daya tarik tersendiri untuk ditelusuri, terkhusus sejarah mandor tambang Soero Santiko atau Mbah Soero.
Hal ini yang menjadikan semangat dan daya tarik Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur yang dipimpin Asisten II Setdakab Setyo Yuliono untuk menelusuri sejarah leluhurnya yang ikut dibawa kolonial di kota tempat mereka menjalankan kerja paksa dan sisa hidupnya.
Kedatangan tim kabupaten Bojonegoro ini dipimpin Asisten II Setdakab terdiri dari Amir Syahid Kadis Kebudayaan dan Pariwisata, Nurul Azizah kadis Kebersihan dan taman, Hanafi Badan Kesbangpol, Suyanto Kabid Pelestarian dan Ragam Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Bambang Sutrisno keturunan kelima mandor tambang Soero Santiko atau Mbah Soero.
“Kedatangan rombongan Pemkab Bojonegoro ini karena ada keterkaitan sejarah masa lalu, yakni sejarah leluhur kita yang dibawa Belanda menjadi pekerja tambang batubara di kota ini,” kata Setyo Yuliono Asisten II Setdakab saat temu ramah tamah dengan Walikota Sawahlunto Ali Yusuf di rumah dinasnya, Selasa (4/8) malam.
Sudah dua hari ini, sebutnya rombongan yang didukung kawan-kawan pemandu dan tim penelusuran sejarah tambang Sawahlunto, untuk mengetahui jejak dan histori orang rantai serta leluhur kami yang pernah mandor
tambang Soero Santiko atau Mbah Soero.
Dia menambahkan bukan hanya berlatarbelakang sejarah ini saja, namun lebih luas adanya kesamaan antara kota Sawahlunto dengan Bojonegoro terkait pemanfaatan dan pengembangan daerah pasca akan habisnya cadangan energi atau tambang.
“Bojonegoro sendiri nantinya akan menjadi daerah yang sama seperti kota ini, karna cadangan minyak yang ada dipertambangan Blok Cepu kedepan akan menipis dan pasti akan habis. Tentu, Bojonegoro akan mempersiapkan diri menjadi kota bekas tambang,” sebutnya.
Dengan menggali sejarah serta bagaimana kota Sawahlunto ini menyikapi pengembangan dan pembangunan kota bekas tambang, suatu pengalaman berharga buat Bojonegoro.
Di kesempatan itu Walikota Ali Yusuf sangat apresiasi terhadap kegigihan pemkab Bojonegoro untuk mengali sejarah leluhurnya. “Ini bukti kita perlu sejarah dan bagaimana sejarah itu juga akan mengikat kerjasama antar daerah dan bangsa,” sebutnya pada acara yang juga dihadiri Wawako Ismed dan Wakil ketua DPRD Hasjhoni itu.
“Selamat datang, sebutnya dikota yang memiliki visi misi kota wisata tambang yang berbudaya ini. Tentu akan ada tindaklanjut kedepan terhadap adanya keterkaitan sejarah dan pengembangan arah kebijakan kedua daerah ini,” sebut Wako.
Pertemuan ini juga diwarnai dengan diskusi tanya jawab seputar sejarah serta wacana pengembangan daerah pasca habisnya tambang, pelestarian cagar budaya dan kota tua. (tumpak)






