
TUAPEIJAT – Tato Mentawai merupakan tradisi seni lukis tubuh bagi suku terasing di Kepulauan Mentawai. Tato Mentawai terbilang sangat unik dan luar biasa, karena penggunanya memenuhi seluruh tubuh, mulai dari kepala sampai ujung kaki.
Bagi suku Mentawai, tato merupakan busana abadi yang dapat dibawa mati. Tato juga berfungsi sebagai alat komunikasi, yaitu untuk menunjukkan jati diri dan untuk perbedaan satus sosial dalam masyarakat.
Selain itu, tato yang dibuat oleh masyarakat Kepulauan Mentawai dinobatkan sebagai tato tertua di dunia. Keberadaan seni lukisnya di atas kulit lahir lebih dulu dibandingkan dengan tato Mesir yang baru dimulai 1300 SM. Suku Mentawai sudah mulai mentato tubuh mereka sejak kedatangannya ke pantai barat Sumatera pada zaman logam sekitar 1500 SM sampai 500 SM.
Menurut para peneliti “tato” di Indonesia, Tato Mentawai adalah yang tertua di dunia yang lebih dikenal dengan sebutan Titi. Bagi masyarakat Mentawai, tato merupakan roh kehidupan.
Untuk menjaga tradisi tersebut, Indonesian Subculture (ISC) Sumbar bersama Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Mentawai akan menggelar Mentawai Skin Art dengan menghadirkan pecinta tato sehat seluruh Indonesia. Kegiatan akan berlangsung selama dua hari 26-27 Desember 2016 di Mapadegat Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Sekjen ISC Sumbar Dhas Wandi mengatakan, kompetisi tato tersebut mengangkat tema ‘Tato bersih dan Tato Sehat’ dengan trik modren. Namun, meski dalam bentuk modren, tidak melupakan sejarah tato di Kepulauan Mentawai.
“Kita bahkan akan melakukan kolaborasi tato tradisonal dengan tato modren,” ujarnya kepada padangmedia.com saat ditemui di UMA Aman Mapadegat, Senin (13/12).
Menurutnya, event perdana tersebut untuk pertama kalinya dilakukan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Alasannya, untuk memperlihatkan perbedaan budaya asli Indonesia, khususnya budaya tradisional Bumi Sikerei.
Pada kegiatan tersebut, akan diundang pemain tato asli Mentawai yang dikenal dengan sebutan Si Patiti, orang tapping yang benar-benar asli Mentawai dan biasa melakukan penatoan di daerahnya. Dalam rangkaian event tersebut juga akan digelar Ekspo Tradisi. Mereka langsung terlibat saat pembukaan untuk mencontohkan bermain Tapping.
“Nanti di sana akan nampak perbedaan,” ujar Wandi.
Selain Dinas Pariwisata Mentawai, kegiatan tersebut juga didukung oleh PT. Djarum Tbk, Bir Bintang, Original Rekor Indonesia, Magic Ink Rumatta Tattoo Supplies, Angoes Tattoo Supply, Masberto Kingdom, Triblack Tattoo, Cortex Cafe, Sriwijaya Tattoo Communty, Assosiation Riau Tatto, Lampung Artist Radjah Club, Prim Ferry Tatto and Piercing, Udi Custom Rotary Tattoo Machine, www.dufftatto.com, Andi Besi Skin Art Tattoo Parlour, Emte Digital Printing, Kent Tattoo Indonesia, West Sumatera Tattoo Community, Tattoo Artist of Bencolen Solidarity, Inoru Tattoo Supply, dan Media Kilas Sumbar.
Adapun yang menjadi nominasi kompetisi di antaranya, Tattoo War dan Show, Body Suspension, Tattoo Collaboration, Body Painting Show, Tattoo Party, Ethnic Formance, Traditional Mentawai Hand Tapping, Original Rekor Indonesian dan 30 Tattoo Artist Performance.
Dhas Wandi mengaku tertarik menggelar kegiatan tersebut di Mentawai, karena Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari Sumatera Barat dan Tato Mentawai merupakan tato tertua di dunia.
Peserta yang sudah mendaftar pada kompetisi Indonesian Subculture mencapai 100 orang tattois yang berada di berbagai daerah di Indonesia.
“Target sebelumnya, hanya mengangkat 25 artis dalam kompetisi Indonesia Subculture karena skopnya nasional. Itupun kalau pelaksanaannya tidak terlalu ribet, karena mereka datang jauh-jauh butuh biaya besar, tapi pada pelaksananya nanti untuk dari tatois Sumbar sebanyak 15 orang yang sudah terdaftar yang akan meramaikan,” terangnya. (ers)






