
PADANG – Meskipun terjadi peningkatan pada Desember 2017, inflasi Sumatera Barat masih berada di bawah nasional. Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan Sumatera Barat mengalami peningkatan atau inflasi sebesar 0,68 persen (month to month/ mtm) sementara bulan sebelumnya inflasi hanya sebesar 0,46 persen(mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat Endy Dwi Tjahjono mengungkapkan, pergerakan harga pada bulan Desember 2017 sejalan dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,71 persen (mtm).
“Pergerakan harga di Sumbar pada Desember sejalan dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,71 persen,” ungkapnya melalui siaran pers, Selasa (2/1).
Sementara itu, tambahnya, laju inflasi tahunan (year on year/ yoy) dan tahun berjalan (year to date/ytd) pada akhir tahun bernilai sama yaitu 2,03 persen. Angka ini masih berada di bawah inflasi nasional sebesar 3,61 persen.
Endy menyebutkan, inflasi bulanan Sumatera Barat pada Desember 2017 merupakan yang tertinggi ke-21 dari 33 provinsi secara nasional. Menurutnya, secara spasial, pergerakan harga disumbang oleh Kota Padang yang mencatatkan inflasi sebesar 0,72 persen (mtm) dan Kota Bukittinggi yang mengalami inflasi 0,37 persen (mtm).
Dia memaparkan, inflasi bulanan Sumatera Barat disumbang oleh kenaikan harga kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food), kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price) serta kelompok inti (core). Bahan pangan menyumbang inflasi sebesar 2,06 persen (mtm), meningkat dari bulan November 2017 yang hanya sebesar 1,33 persen (mtm).
“Kenaikan harga antara lain disumbang oleh cabai merah, ikan tongkol, daging ayam ras, telur ayam ras, beras dan jengkol,” ujarnya.
Kondisi cuaca menjadi pemicu kenaikan harga pada kelompok bahan pangan tersebut. Tingginya curah hujan menyebabkan gagal panen di sentra produksi. Pasokan ikan juga menurun akibat gangguan cuaca sehingga memicu kenaikan harga.
Sementara itu, untuk kelompok administered price mengalami inflasi sebesar 0,28 persen (mtm), meningkat tipis dari bulan sebelumnya 0,24 persen (mtm). Inflasi disumbang oleh kenaikan harga bahan bakar rumahtangga sebagai dampak dari kenaikan harga LPG di tingkat pedagang pengecer.
Sedangkan pada kelompok inti (core) menyumbang inflasi sebesar 0,19 persen (mtm), juga meningkat tipis dari sebelumnya yang sebesar 0,14 persen (mtm). Kenaikan harga pada kelompok inti menurutnya antara lain kenaikan harga sewa rumah dan kenaikan harga besi beton. Inflasi kelompok inti bisa sedikit tertahan dengan penurunan harga bumbu masak jadi, kopi bubuk dan parfum.
“Secara keseluruhan, kelompok volatile food memberi andil inflasi sebesar 0,51 persen, administered price inflasi sebesar 0,07 persen dan kelompok inti menyumbang sebesar 0,09 persen terhadap inflasi bulanan Sumatera Barat sebesar 0,68 persen,” tutupnya. (feb)






