
JAKARTA – Negara Indonesia mengalami tiga fenomena alam langka sepanjang tahun 2018. Pertama, saat gempa melanda Nusa Tenggara Barat pada Juli dan Agustus 2018, gempa diikuti tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah dan terakhir tsunami yang datang tiba-tiba dipicu longsor bawah laut di Selat Sunda.
Gempa yang melanda NTB dikatakan langka karena terjadi secara beruntun dengan pusat-pusat yang berbeda. Gempa NTB menyebabkan 564 korban meninggal dunia, 1.886 orang luka-luka, dan 11.510 jiwa mengungsi. Gempa juga mengakibatkan 149.715 unit rumah rusak dengan kerugian mencapai Rp 17,13 triliun.
Data itu disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers, Selasa (25/12) siang di Jakarta.
Sementara itu, gempa diikuti tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu menimbulkan 2.101 jiwa meninggal dunia, korban hilang 1.373 jiwa, luka-luka 4.438 orang dan mengungsi 221.450. Rumah rusak mencapai 68.451 dengan total kerugian mencapai Rp 18,47 triliun.
“Bahkan, likuifaksi di Sigi dan Donggala, Sulteng disebut sebagai peristiwa likuifaksi terbesar di dunia,” kata Sutopo.
Terakhir, tsunami yang terjadi di Selat Sunda akibat longsoran bawah laut dan erupsi gunung anak Krakatau. Korban meninggal hingga Selasa (25/12) siang pukul 13.00 WIB sudah mencapai 429 orang. Selain itu, 1482 orang luka-luka dan 154 masih hilang dan terus dicari. Sementara itu, data korban yang mengungsi mencapai 1682 jiwa.
Tsunami Selat Sunda disebut fenomena langka karena selain datang secara tiba-tiba, juga karena erupsi yang terjadi pada Sabtu (22/12) malam bukanlah yang paling besar pada tahun ini. Justru erupsi lebih besar terjadi pada Oktober – November 2018.
“Erupsi sebenarnya sudah terjadi sejak Juni 2018. Dan, Gunung Anak Krakatau ini masih terus tumbuh, rata rata 4 sampai 6 meter setahun,” jelas Sutopo.
Jumlah korban sangat banyak disebabkan karena gelombang tsunami datang secara tiba-tiba hingga membuat masyarakat dan wisatawan di pinggir pantai tak sempat evakuasi. Hal itu terjadi karena memang BMKG tidak memiliki alat pendeteksi tsunami yang disebabkan oleh longsoran bawah laut dan erupsi gunung berapi.
“Ke depan, itu menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menyediakan alat pendeteksi tsunami yang ditimbulkan akibat erupsi gunung berapi atau aktifitas vulkanik serta longsoran bawah laut. Karena, Negara kita memiliki banyak gunung api sehingga jangan sampai peristiwa yang sama terjadi lagi,” katanya.
Terkait status gunung Anak Krakatau, menurutnya, saat ini masih dengan status waspada, tidak siaga. Sutopo memperkirakan, kalaupun akan erupsi kembali, dampaknya tidak sebesar yang terjadi pada tahun 1883. Karena, saat itu, ada tiga gunung api yang meletus secara bersamaan sehingga menimbulkan banyak sekali korban jiwa. Lama setelah letusan itu, Gunung Krakatau seperti lenyap dan baru pada tahun 1927, muncul Gunung Anak Krakatau yang terus bertumbuh sepanjang tahun.
BNPB, katanya, merekomendasikan tidak boleh ada aktifitas apaun dari jarak 2 kilometer dari pusat kawah. Sedangkan rekomendasi BMKG adalah agar masyarakat tidak boleh melakukan aktififas di sekitar pantai untuk sementara. “Sampai kapan rekomendasi ini? Nanti akan disampaikan lagi kemudian,” ujarnya. (rin)






