
PADANG – Informasi yang diragukan kebenarannya dan cenderung salah dan menyesatkan (hoax) semakin hari perkembangannya seperti tak terbendung. Munculnya berita hoax tidak terlepas dari perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih sehingga sebuah informasi yang belum jelas kebenarannya bisa menyebar dan meluas secara viral dalam waktu relatif singkat.
Kondisi ini menjadi kajian dari banyak kalangan guna menangkal suburnya informasi hoax yang semakin mengkhawatirkan belakangan ini. Salah satu pihak yang peduli dengan kondisi tersebut adalah Ikatan Keluarga Alumni Universitas Andalas (IKA UNAND).
Melalui sebuah diskusi, Minggu (12/2), IKA UNAND mengupas seputar informasi hoax mulai dari awal kemunculannya hingga langkah-langkah antisipasi. Diskusi ini menghadirkan beberapa orang praktisi media seperti Yurnaldi dan Almudazir.
“Hoax seperti wabah yang terus merongrong. Kondisi ini tidak terlepas dari peran media massa serta para akademisi dalam penyajian berita kurang memberikan informasi pembanding atau analisis cepat terhadap sebuah situasi yang terjadi,” kata Yurnaldi.
Ketika sebuah informasi berkembang, sementara belum ada informasi pembanding maka disitulah celah masuknya informasi hoax yang tanpa disadari membelokkan pemikiran dari kenyataan yang sebenarnya. Semestinya, kalangan akademisi tanggap dan memberikan analisis cepat terhadap informasi kekinian sehingga informasi media massa tetap berjalan pada garis lurus dan informasi yang disajikan menjadi dalam dan diyakini oleh masyarakat pembaca.
Dia menegaskan, berita hoax bukanlah karya jurnalistik. Untuk menilai apakah sebuah berita yang beredar adalah informasi yang benar atau hoax menurutnya sangat mudah. Lahirnya sebuah berita sebagai karya jurnalistik memiliki proses yang sesuai dengan kaidahnya. Memiliki keberimbangan dalam penyajian informasi (cek and balance), juga kapasitas dan kompeten narasumber.
Mengantisipasi beredarnya informasi hoax, menurut praktisi media, Almudazir, ada beberapa langkah. Yang pertama tentunya soal regulasi, kemudian pengawasan. Pemerintah harus melakukan pengawasan lebih ketat lagi sehingga informasi hoax tidak berkembang.
Selanjutnya, peran media massa dalam menangkal informasi hoax sangat diperlukan. Jurnalis adalah ujung tombak dalam menangkal informasi yang bukan karya jurnalistik.
“Media massa harus membuka diri untuk menyajikan informasi yang berbasis idealisme jurnalistik,” ujarnya.
Ketika ada informasi hoax beredar di lini massa, harus ada media mainstream yang menyajikan informasi pembanding sebagai penyadaran kepada masyarakat bahwa informasi dari lini massa adalah tidak benar. Dengan demikian, informasi hoax akan terkikis dengan sendirinya.
Kegiatan diskusi tersebut menurut Adrian, Humas IKA UNAND merupakan kegiatan pertama setelah dikukuhkannya kepengurusan IKA Unand periode ini. Adrian menegaskan, kegiatan diskusi tersebut akan digelar minimal satu bulan sekali dengan topik bahasan berkaitan dengan kondisi kekinian dalam rangka berkontribusi dan memberi solusi dalam mengatasi persoalan yang terjadi. (feb/*)






