
PADANG – Indek Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat pada Juni 2020 tercatat mengalami deflasi. Perkembangan IHK umum gabungan dua kota pada Juni 2020 tercatat mengalami deflasi sebesar -0,16 persen (month to month/ mtm).
Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A melalui siaran pers, Kamis (2/7/2020). Data diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS).
“Deflasi pada Juni 2020 tersebut menurun dibandingkan bulan Mei 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,63 persen (mtm),” katanya.
Dia memaparkan, laju inflasi Sumatera Barat pada Juni 2020 tersebut tercatat berada di bawah realisasi inflasi nasional sebesar 0,18 persen (mtm) dan realisasi inflasi Kawasan Sumatera sebesar 0,05 persen (mtm).
Secara spasial, Wahyu merinci pada Juni 2020 Kota Padang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,16 persen (mtm). Menurun dibandingkan realisasi bulan Mei 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,66 persen (mtm).
Deflasi Kota Padang pada bulan Juni 2020 menjadikannya sebagai kota dengan nilai deflasi tertinggi ke-3 dari 8 kota/ kabupaten IHK di kawasan Sumatera yang mengalami deflasi. Serta berada pada peringkat ke-6 deflasi tertinggi dari 14 kota/ kabupaten IHK di Indonesia yang mengalami deflasi.
Pada Juni 2020, Kota Bukittinggi mengalami deflasi sebesar -0,13 persen (mtm). Lebih rendah dibandingkan realisasi pada bulan Mei 2020 yang tercatat inflasi sebesar 0,39 persen (mtm).
Realisasi inflasi Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai kota dengan nilai deflasi tertinggi ke-5 dari 8 kota/ kabupaten di Kawasan Sumatera yang mengalami deflasi. Selanjutnya secara nasional, Kota Bukittinggi berada pada peringkat ke-9 dari 14 kota/ kabupaten IHK yang mengalami deflasi.
Wahyu menambahkan, secara tahunan pergerakan harga pada Juni 2020 menunjukkan inflasi sebesar 0,18 persen (year on year/ yoy). Menurun dibandingkan realisasi inflasi Mei 2020 yang sebesar 1,28 persen (yoy).
Nilai inflasi tahunan Sumatera Barat ini tercatat lebih rendah dari realisasi inflasi nasional sebesar 1,96 persen (yoy). Juga lebih rendah dibandingkan realisasi Kawasan Sumatera sebesar 0,69 persen (yoy).
Secara tahun berjalan 2020 (s.d Juni 2020) Sumatera Barat tercatat mengalami inflasi sebesar 0,44 persen (year to date/ ytd). Meningkat dibandingkan Mei 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,60 persen (ytd).
Deflasi Provinsi Sumatera Barat pada Juni 2020 terutama berasal dari deflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi dengan andil -0,12 persen (mtm). Didorong oleh penurunan harga berbagai komoditas bahan makanan antara lain bawang merah, cabai merah, bawang putih dan gula pasir.
“Penurunan harga didorong oleh melimpahnya pasokan seiring masa panen di berbagai wilayah di Sumatera Barat,” ujar Wahyu.
Sementara itu, beberapa komoditas penyumbang inflasi di kelompok makanan, minuman dan tembakau antara lain daging ayam ras, ikan gembolo/ ikan aso-aso dan telur ayam ras. Peningkatan harga didorong oleh peningkatan permintaan dan kurangnya pasokan di masyarakat.
Kelompok lain yang turut menyumbang deflasi pada bulan Juni 2020 yaitu kelompok transportasi serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Deflasi pada kelompok transportasi terutama disumbang oleh penurunan tarif angkutan udara dan tarif angkutan antar kota.
Inflasi pada kelompok transportasi didorong oleh kenaikan tarif kendaraan roda dua online. Hai itu disebabkan oleh pemberlakuan kebijakan new normal di wilayah Sumatera Barat.
Tekanan inflasi pada Juni 2020 berasal dari inflasi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/ restoran. Hal itu didorong oleh peningkatan harga nasi dengan lauk seiring mulai dibukanya restoran setelah pemberlakuan kebijakan new normal.*






