PADANG – Kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) di Sumatera Barat pada Juli 2017 masih melanjutkan penurunan harga (deflasi) lebih dalam dari bulan sebelumnya. Kelompok ini menunjukkan deflasi sebesar 1,65 persen (month to month/mtm) pada Juli, lebih dalam dibanding Juni 2017 sebesar 0,58 persen (mtm).
Deflasi kelompok harga bahan pangan bergejolak di Sumatera Barat menurut Puji Atmoko, Wakil Ketua Tim Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat, disumbang oleh turunnya harga cabai merah, jengkol petai dan bawang putih. Cabai merah masih memberikan andil deflasi sebesar 0,30 persen (mtm), jengkol sebesar 0,14 persen, petai sebesar 0,07 persen dan bawang putih 0,03 persen (mtm). Disamping itu, daging sapi dan daging ayam ras juga turut menyumbangkan deflasi masing-masing 0,01 persen.
” Masih melimpahnya pasokan cabai merah lokal serta bertambahnya pasokan cabai dari pulau Jawa membuat harga komoditas ini kembali turun,” kata Puji.
Selain itu, dia juga mengungkapkan peran Satuan Tugas (Satgas) Pangan yang dipimpin oleh Kepolisian Daerah Sumatera Barat turut membantu memperlancar distribusi pasokan bahan pangan sehingga mampu meredam gejolak harga yang berlebihan.
Deflasi kelompok volatile food sedikit tertahan dengan kenaikan harga bawang merah namun dengan andil yang tergolong kecil sebesar 0,06 persen (mtm). Secara keseluruhan, kelompok volatile food, administered price dan core memberi andil bulanan masing-masing sebesar -0,41 persen (mtm); 0,56 persen (mtm); dan 0,34 persen (mtm) terhadap inflasi bulanan Sumatera Barat 0,48 persen (mtm).
“Tekanan inflasi ke depan diprakirakan cukup rendah. Sumber tekanan inflasi diprakirakan berasal dari kelompok bahan pangan bergejolak yang perlahan-lahan mulai memasuki periode akhir panen sehingga berdampak pada jumlah pasokan komoditas tersebut di pasar,” katanya. (feb)






