Hadir di MTQ ke-XL, Ini Sejarah Singkat Kopila
  • Home
  • Agam
  • Hadir di MTQ ke-XL, Ini Sejarah Singkat Kopila

Hadir di MTQ ke-XL, Ini Sejarah Singkat Kopila

Image

AGAM – Puluhan ibu-ibu di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, bahu membahu menyediakan puluhan gelas kopi hangat bagi pengunjung serta kafilah atau peserta Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Kabupaten Agam ke-XL.

Kopi yang disuguhkan kaum ibu ini merupakan kopi asli daerah setempat, persisnya dari Jorong Limau Abuang. Sehingga, bagi masyarakat setempat bubuk kopi asli tersebut dinamai Kopi Limau Abuang Asli (Kopila).

Wali Nagari Pasia Laweh, DR (Cand) Zul Arfin, S.Sos, MM Dt. Parpatiah menjelaskan, sejarah Kopila berawal dari 2017 silam. Saat itu, masyarakat setempat berkeinginan mengolahan lahan tidur menjadi lahan produktif.

“Kopila ini sudah ada sejak 5 tahun terakhir, bersamaan dengan keinganan masyarakat mengolah lahan perkebunan, daerah kosong jadi produktif,” ujarnya, Senin (30/5).

Saat ini setidaknya lahan kopi masyarakat di Limau Abuang mencapai 100 hektare. Separuhnya merupakan lahan kopi yang sudah siap untuk dipanen.

“Untuk jenis kopinya adalah Robusta, luasnya 50 hektar siap panen, 50 hektar lagi tengah digarap masyarakat,” katanya.

Dengan luas lahan tersebut sambungnya, masyarakat jorong pemekaran Sungai Tutuang itu bisa mendapatkan hasil kisaran setengah ton biji kopi dalam sekali panen.

Menurutnya, Kopila memiliki banyak keunggulan seperti peracikannya yang masih dengan cara tradisional. Dengan teknik peracikan tradisional itu, Kopila dinilai mampu mempertahankan cita rasa kopi asli.

“Proses racikan alami atau tradisional, mulai ngambilan, penjemuran, perendangan, pengayakan, tumbuk, hingga masuk kemasan. Semuanya dilakukan petani langsung, jadi rasa pahit kopinya masih asli,” terang Zul Arfin.

Untuk kemasan sendiri, Kopila menggunakan kemasan yang dibuat Bumnag Nagari Pasia Laweh. Hal ini bertujuan menambah nilai ekonomis dan dapat menjadi ikon kuliner di daerah itu.

“Jika sebelumnya yang dijual bijinya, dengan kemasan ini masyarakat bisa menjual produk jadi,” ucapnya lagi.

Menurut Ketua Forwana Sumbar ini, peminat kopi di daerah itu terbilang cukup tinggi. Untuk itu, pihaknya berharap masyarakat setempat dapat menjadikan Kopila sebagai pilihan saat menyeduh kopi.

“Ciri khas kopila ini cukup terasa pahitnya, kopi ini tampa ada pupuk kimia, intinya dilakulan sistem pertanian organik, sesuai tradisi masyarakat, sehingga cocok dikonsumsi masyarakat,” imbuhnya.

Ditambahkan, Kopila merupakan salah satu produk UMKM baru di Nagari Pasia Laweh. Kopila diharapkan mampu menjadi ikon Jorong Limau Abuang. Untuk itu katanya, masyarakat setempat bersepakat menyuguhkan Kopila bagi sesiapa tamu yang datang ke daerah itu.

“Kami berharap Kopila dapat penggerak perekonomian masyarakat, dengan kopi semoga dapat memacu pembangunan di Limau Abuang,” katanya. (Pit)

Berita Terkait

Leave a Reply