
PADANG PANJANG – Workshop Seni Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) mengawali rangkaian Galanggang Arang #8 di Kota Padang Panjang, Selasa (6/8) di Stasiun Kereta Api.
Workshop ini mengangkat tema Alih Wahana Teks-Teks WTBOS ke Karya Seni Baru, diikuti kurator dan seniman dari berbagai disiplin. Dan mendatangkan narasumber Dosen Institut Seni Indonesia (ISI), Edi Suwisno, Kurator Seni Rupa, Yusuf Fadlyaser serta Kurator Galanggang Arang, Sudarmoko.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang Panjang, Nasrul, SH, M.Si mengapresiasi kegiatan ini sebagai upaya mempromosikan keunggulan Padang Panjang, khususnya terkait sejarah perkeretaapian yang sangat berpengaruh pada perkembangan pendidikan di kota ini.
“Melalui workshop ini, diharapkan dapat melahirkan pemikiran yang menjadikan Padangpanjang jadi kota tujuan tidak hanya pendidikan, namun juga seni, wisata dan lainnya,” ujar Nasrul.
Menurutnya, Padang Panjang memiliki Stasiun Kereta Api terbesar yang menghubungkan jalur kereta api Padang, Sawahlunto dan Payakumbuh. Keberadaan jalur tersebut, turut mempengaruhi perkembangan dunia pendidikan di kota ini.
Senada dengan hal tersebut, Kurator Galanggang Arang, Dr. Deden Pramayoza, menyampaikan, Padang Panjang memiliki potensi besar dalam bidang seni dan budaya, terbukti dengan adanya perguruan tinggi seni ISI.
“Oleh karena itu, Galanggang Arang tahun ini mencoba merespons potensi tersebut berkaitannya dengan WTBOS. Workshop ini diharapkan dapat mendorong para seniman untuk menghasilkan karya-karya seni yang menginspirasi, baik dalam bentuk visual, film, foto, maupun seni lainnya. Dengan demikian, warisan dunia WTBOS dapat diangkat dan diapresiasi masyarakat luas,” pungkasnya. (de)






