
SAWAHLUNTO – Ajang Sawahlunto International Songket Karnival (SISCa) yang menampilkan kekayaan songket Silungkang pada 25 Agustus 2016 memang telah berlalu. Namun, ada yang tersisa dari ajang yang merupakan salah satu penunjang pariwisata Kota Sawahlunto itu, yakni cara berpakaian beberapa peserta SISCa yang dinilai tidak sesuai norma Islam dan masyarakat Minang.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sawahlunto dari Fraksi Partai Golongan Karya DPRD Sawahlunto, Elfia Rita Dewi saat rapat paripurna di gedung dewan, Rabu (21/9) menyorot hal itu. Elfia Rita Dewi menyatakan, fraksinya sangat memahami tujuan kegiatan dimaksud. Namun, dari pagelaran yang dilaksanakan tentu ada hal-hal yang perlu diperhatikan terhadap etika dan norma-norma kehidupan, baik adat maupun syariat Islam.
“Ke depan, pelaksanaan carnival songket jangan ada lagi yang menampilkan atau mempertontonkan aurat peserta,” pinta Dewi pada paripurna yang dihadiri Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf dan sejumlah kepala SKPD setempat.
Sorotan yang sama juga dilontarkan Adi Ikhtibar dari Fraksi PPP, NasDem dan PAN. Ia mengingatkan masih ada penampilan peserta SISCa yang kurang menjunjung tinggi norma agama serta nilai budaya atau adat Minang. Terutama sekali dalam hal etika berpakaian.
“Harusnya ada ketentuan yang jelas terkait cara berpakaian yang menyangkut norma adat dan agama,” sebut Adi.
Kegiatan carnival SISCa merupakan karnaval berupa penampilan beragam kreasi busana dengan desain unik berbahan songket Silungkang yang pesertanya dilombakan. Kategori yang dilombakan adalah beregu umum luar Sawahlunto, beregu dalam kota dan
perorangan tingkat pelajar SD, SMP dan SMA. (tumpak)






